jongarsitek

Arsitek Muda Indonesia

In Uncategorized on September 3, 2009 at 4:42 am

Arsitek Muda Indonesia (AMI) adalah sebuah kelompok arsitek muda  yang dibentuk dengan visi untuk terus menerus mendobrak stagnansi arsitektur di Indonesia. Dalam rangka memperingati 20 tahun terbentuknya, AMI mengadakan sebuah Workshop dan Pameran dari hasil workshop tersebut, dengan tema “Ruang Tinggal Dalam Kota”. Mengapa ‘Ruang Tinggal’? Dan Mengapa ‘Kota’? Karena ruang tinggal adalah kebutuhan hakiki semua orang dan kota telah menjadi habitat lebih dari 50% populasi manusia di muka bumi.

Workshop dan Pameran ini adalah sebuah upaya meninjau kembali cara kita menempatkan diri dalam ruang – entah itu dalam sebuah ruang tinggal yang pribadi, atau dalam kota, atau keduanya.  Rumah, dalam arti dan wujudnya yang konvensional, bisa jadi tidak lagi efektif untuk cara kita hidup dan tinggal saat ini. Karena itu, kami lebih memilih untuk menggunakan istilah ‘ruang tinggal’. Selain untuk membebaskannya dari konotasi rumah – yang dekat sekali dengan landed house, juga untuk membebaskannya dari ‘wujud’.

Kota dipilih sebagai konteks karena, seperti telah disebut di atas, lebih dari 50% populasi dunia bermukim di kota (data ini didapat dari survey yang dilakukan oleh mahasiswa Harvard dalam riset yang difasilitatori oleh Rem Koolhas tentang mutasi). Di dalam kota kita bisa membaca semua fenomena kekinian yang menghadirkan ambiguitas ruang tinggal. Ambiguitas itu begitu nyata kini. Kehilangan diri di tengah urban amnesia, kita akan bertemu dengan ruang-ruang yang banal dan ruang-ruang yang didefinisikan sebagai ruang-ruang tak sadar diri dari kota: memori-memori yang tertindas, penolakan, ketidakadaan kontrol –  yang telah menghasilkan sebuah sistem dari ruang-ruang kosong yang didalamnya kita hanya mungkin melayang.

Karena itu banyak sekali yang bisa kita pertanyakan kembali. Apa itu ‘tinggal’ ketika ia tak lagi sekedar ‘diam’ atau ‘berdiam’ dan  kita tidak lagi terikat oleh ‘tempat’? Apakah ‘kota’  ketika satu dan lainnya di menjadi ‘sama’ di seluruh dunia? Apa arti ‘memori’ buat sebuah kota yang terus berubah? Benarkah kita memerlukan definisi baru untuk sebuah ruang tinggal dalam kota? Karena, seperti telah disebutkan dalam pengantar di atas, wacana ini telah ada beribu tahun yang lalu?

Di dalam profesinya, ruang tinggal bukanlah sebuah hal yang asing bagi arsitek. Tapi sering ia mewujud sebagai produk dari satu paradigma, nilai-nilai, dan kebiasaan yang tidak dipertanyakan lagi. Lebih merupakan sebuah proses yang ‘otomatis’. Karena itu, banyak sekali akhirnya kita menemukan rumah-rumah yang ‘terasing’, lepas dari konteksnya, dan tak berbicara apa-apa.

Workshop yang telah berlangsung mulai dari akhir bulan Mei ini, kini hampir usai dan hasilnya siap dipamerkan. Mungkin terlalu jauh apabila dari Workshop dan Pameran ini diharapkan dihasilkan solusi-solusi dari masalah ruang tinggal dalam kota. Tapi akan menarik untuk melihat bagaimana hal ini ditelaah dengan pikiran terbuka dan keberanian bereksplorasi. Bukan tidak mungkin ada alternatif-alternatif inspiratif yang bisa jadi pilihan untuk sebuah terobosan dalam mendesain dan menjadi acuan untuk memahami masalah ruang tinggal dalam kota.

RUANG TINGGAL DALAM KOTA

In Uncategorized on September 3, 2009 at 4:42 am

RUANG TINGGAL DALAM KOTA

Sebuah Pameran Hasil Workshop
Dalam Rangka Memperingati
20 Tahun Arsitek Muda Indonesia

Gallery Komunitas Salihara
Jalan Salihara No. 16
Pasar Minggu – Jakarta Selatan
Rabu, 9 September 2009 – Rabu, 16 September 2009
11.00 – 21.00

Arsitek Muda Indonesia

In Uncategorized on September 3, 2009 at 4:39 am

Arsitek Muda Indonesia (AMI) adalah sebuah kelompok arsitek muda  yang dibentuk dengan visi untuk terus menerus mendobrak stagnansi arsitektur di Indonesia. Dalam rangka memperingati 20 tahun terbentuknya, AMI mengadakan sebuah Workshop dan Pameran dari hasil workshop tersebut, dengan tema “Ruang Tinggal Dalam Kota”. Mengapa ‘Ruang Tinggal’? Dan Mengapa ‘Kota’? Karena ruang tinggal adalah kebutuhan hakiki semua orang dan kota telah menjadi habitat lebih dari 50% populasi manusia di muka bumi.

Workshop dan Pameran ini adalah sebuah upaya meninjau kembali cara kita menempatkan diri dalam ruang – entah itu dalam sebuah ruang tinggal yang pribadi, atau dalam kota, atau keduanya.  Rumah, dalam arti dan wujudnya yang konvensional, bisa jadi tidak lagi efektif untuk cara kita hidup dan tinggal saat ini. Karena itu, kami lebih memilih untuk menggunakan istilah ‘ruang tinggal’. Selain untuk membebaskannya dari konotasi rumah – yang dekat sekali dengan landed house, juga untuk membebaskannya dari ‘wujud’.

Kota dipilih sebagai konteks karena, seperti telah disebut di atas, lebih dari 50% populasi dunia bermukim di kota (data ini didapat dari survey yang dilakukan oleh mahasiswa Harvard dalam riset yang difasilitatori oleh Rem Koolhas tentang mutasi). Di dalam kota kita bisa membaca semua fenomena kekinian yang menghadirkan ambiguitas ruang tinggal. Ambiguitas itu begitu nyata kini. Kehilangan diri di tengah urban amnesia, kita akan bertemu dengan ruang-ruang yang banal dan ruang-ruang yang didefinisikan sebagai ruang-ruang tak sadar diri dari kota: memori-memori yang tertindas, penolakan, ketidakadaan kontrol –  yang telah menghasilkan sebuah sistem dari ruang-ruang kosong yang didalamnya kita hanya mungkin melayang.

Karena itu banyak sekali yang bisa kita pertanyakan kembali. Apa itu ‘tinggal’ ketika ia tak lagi sekedar ‘diam’ atau ‘berdiam’ dan  kita tidak lagi terikat oleh ‘tempat’? Apakah ‘kota’  ketika satu dan lainnya di menjadi ‘sama’ di seluruh dunia? Apa arti ‘memori’ buat sebuah kota yang terus berubah? Benarkah kita memerlukan definisi baru untuk sebuah ruang tinggal dalam kota? Karena, seperti telah disebutkan dalam pengantar di atas, wacana ini telah ada beribu tahun yang lalu?

Di dalam profesinya, ruang tinggal bukanlah sebuah hal yang asing bagi arsitek. Tapi sering ia mewujud sebagai produk dari satu paradigma, nilai-nilai, dan kebiasaan yang tidak dipertanyakan lagi. Lebih merupakan sebuah proses yang ‘otomatis’. Karena itu, banyak sekali akhirnya kita menemukan rumah-rumah yang ‘terasing’, lepas dari konteksnya, dan tak berbicara apa-apa.

Workshop yang telah berlangsung mulai dari akhir bulan Mei ini, kini hampir usai dan hasilnya siap dipamerkan. Mungkin terlalu jauh apabila dari Workshop dan Pameran ini diharapkan dihasilkan solusi-solusi dari masalah ruang tinggal dalam kota. Tapi akan menarik untuk melihat bagaimana hal ini ditelaah dengan pikiran terbuka dan keberanian bereksplorasi. Bukan tidak mungkin ada alternatif-alternatif inspiratif yang bisa jadi pilihan untuk sebuah terobosan dalam mendesain dan menjadi acuan untuk memahami masalah ruang tinggal dalam kota.