<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>..WorkshopAMI..</title>
	<atom:link href="http://workshopami.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://workshopami.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Sep 2009 01:17:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='workshopami.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>..WorkshopAMI..</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://workshopami.wordpress.com/osd.xml" title="..WorkshopAMI.." />
	<atom:link rel='hub' href='http://workshopami.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Arsitek Muda Indonesia</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/arsitek-muda-indonesia-2/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/arsitek-muda-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 04:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Arsitek Muda Indonesia (AMI) adalah sebuah kelompok arsitek muda  yang dibentuk dengan visi untuk terus menerus mendobrak stagnansi arsitektur di Indonesia. Dalam rangka memperingati 20 tahun terbentuknya, AMI mengadakan sebuah Workshop dan Pameran dari hasil workshop tersebut, dengan tema “Ruang Tinggal Dalam Kota”. Mengapa ‘Ruang Tinggal’? Dan Mengapa ‘Kota’? Karena ruang tinggal adalah kebutuhan hakiki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=65&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';text-align:center;margin:0;">Arsitek Muda Indonesia (AMI) adalah sebuah kelompok arsitek muda  yang dibentuk dengan visi untuk terus menerus mendobrak stagnansi arsitektur di Indonesia. Dalam rangka memperingati 20 tahun terbentuknya, AMI mengadakan sebuah Workshop dan Pameran dari hasil workshop tersebut, dengan tema “Ruang Tinggal Dalam Kota”. Mengapa ‘Ruang Tinggal’? Dan Mengapa ‘Kota’? Karena ruang tinggal adalah kebutuhan hakiki semua orang dan kota telah menjadi habitat lebih dari 50% populasi manusia di muka bumi.</p>
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';min-height:11px;text-align:center;margin:0;">
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';text-align:center;margin:0;">Workshop dan Pameran ini adalah sebuah upaya meninjau kembali cara kita menempatkan diri dalam ruang – entah itu dalam sebuah ruang tinggal yang pribadi, atau dalam kota, atau keduanya.  Rumah, dalam arti dan wujudnya yang konvensional, bisa jadi tidak lagi efektif untuk cara kita hidup dan tinggal saat ini. Karena itu, kami lebih memilih untuk menggunakan istilah ‘ruang tinggal’. Selain untuk membebaskannya dari konotasi rumah – yang dekat sekali dengan <em>landed house</em>, juga untuk membebaskannya dari ‘wujud’.</p>
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';min-height:11px;text-align:center;margin:0;">
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';text-align:center;margin:0;">Kota dipilih sebagai konteks karena, seperti telah disebut di atas, lebih dari 50% populasi dunia bermukim di kota (data ini didapat dari survey yang dilakukan oleh mahasiswa Harvard dalam riset yang difasilitatori oleh Rem Koolhas tentang mutasi). Di dalam kota kita bisa membaca semua fenomena kekinian yang menghadirkan ambiguitas ruang tinggal. Ambiguitas itu begitu nyata kini. Kehilangan diri di tengah urban amnesia, kita akan bertemu dengan ruang-ruang yang banal dan ruang-ruang yang didefinisikan sebagai ruang-ruang tak sadar diri dari kota: memori-memori yang tertindas, penolakan, ketidakadaan kontrol –  yang telah menghasilkan sebuah sistem dari ruang-ruang kosong yang didalamnya kita hanya mungkin melayang.</p>
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';min-height:11px;text-align:center;margin:0;">
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';text-align:center;margin:0;">Karena itu banyak sekali yang bisa kita pertanyakan kembali. Apa itu ‘tinggal’ ketika ia tak lagi sekedar ‘diam’ atau ‘berdiam’ dan  kita tidak lagi terikat oleh ‘tempat’? Apakah ‘kota’  ketika satu dan lainnya di menjadi ‘sama’ di seluruh dunia? Apa arti ‘memori’ buat sebuah kota yang terus berubah? Benarkah kita memerlukan definisi baru untuk sebuah ruang tinggal dalam kota? Karena, seperti telah disebutkan dalam pengantar di atas, wacana ini telah ada beribu tahun yang lalu?</p>
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';min-height:11px;text-align:center;margin:0;">
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';text-align:center;margin:0;">Di dalam profesinya, ruang tinggal bukanlah sebuah hal yang asing bagi arsitek. Tapi sering ia mewujud sebagai produk dari satu paradigma, nilai-nilai, dan kebiasaan yang tidak dipertanyakan lagi. Lebih merupakan sebuah proses yang ‘otomatis’. Karena itu, banyak sekali akhirnya kita menemukan rumah-rumah yang ‘terasing’, lepas dari konteksnya, dan tak berbicara apa-apa.</p>
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';min-height:11px;text-align:center;margin:0;">
<p style="font:normal normal normal 10px/normal 'Times New Roman';text-align:center;margin:0;">Workshop yang telah berlangsung mulai dari akhir bulan Mei ini, kini hampir usai dan hasilnya siap dipamerkan. Mungkin terlalu jauh apabila dari Workshop dan Pameran ini diharapkan dihasilkan solusi-solusi dari masalah ruang tinggal dalam kota. Tapi akan menarik untuk melihat bagaimana hal ini ditelaah dengan pikiran terbuka dan keberanian bereksplorasi. Bukan tidak mungkin ada alternatif-alternatif inspiratif yang bisa jadi pilihan untuk sebuah terobosan dalam mendesain dan menjadi acuan untuk memahami masalah ruang tinggal dalam kota.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=65&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/arsitek-muda-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUANG TINGGAL DALAM KOTA</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/ruang-tinggal-dalam-kota/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/ruang-tinggal-dalam-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 04:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[RUANG TINGGAL DALAM KOTA Sebuah Pameran Hasil Workshop Dalam Rangka Memperingati 20 Tahun Arsitek Muda Indonesia Gallery Komunitas Salihara Jalan Salihara No. 16 Pasar Minggu – Jakarta Selatan Rabu, 9 September 2009 &#8211; Rabu, 16 September 2009 11.00 &#8211; 21.00<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=63&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><div class='embed-vimeo' style='text-align:center;'><iframe src='http://player.vimeo.com/video/6527225' width='400' height='300' frameborder='0'></iframe></div></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>RUANG TINGGAL DALAM KOTA</strong></p>
<p style="text-align:center;">Sebuah Pameran Hasil Workshop<br />
Dalam Rangka Memperingati<br />
20 Tahun Arsitek Muda Indonesia</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Gallery Komunitas Salihara<br />
Jalan Salihara No. 16<br />
Pasar Minggu – Jakarta Selatan<br />
Rabu, 9 September 2009 &#8211; Rabu, 16 September 2009<br />
11.00 &#8211; 21.00</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><iframe class="scribd_iframe_embed" src="http://www.scribd.com/embeds/19626410/content?start_page=1&view_mode=&access_key=key-3lqcbkudpwbjm1ioctr" data-auto-height="true" scrolling="no" id="scribd_19626410" width="100%" height="500" frameborder="0"></iframe>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/19626410">View this document on Scribd</a></div></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=63&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/ruang-tinggal-dalam-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arsitek Muda Indonesia</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/arsitek-muda-indonesia/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/arsitek-muda-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 04:39:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Arsitek Muda Indonesia (AMI) adalah sebuah kelompok arsitek muda  yang dibentuk dengan visi untuk terus menerus mendobrak stagnansi arsitektur di Indonesia. Dalam rangka memperingati 20 tahun terbentuknya, AMI mengadakan sebuah Workshop dan Pameran dari hasil workshop tersebut, dengan tema “Ruang Tinggal Dalam Kota”. Mengapa ‘Ruang Tinggal’? Dan Mengapa ‘Kota’? Karena ruang tinggal adalah kebutuhan hakiki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=61&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font:10px Times New Roman;margin:0;">Arsitek Muda Indonesia (AMI) adalah sebuah kelompok arsitek muda  yang dibentuk dengan visi untuk terus menerus mendobrak stagnansi arsitektur di Indonesia. Dalam rangka memperingati 20 tahun terbentuknya, AMI mengadakan sebuah Workshop dan Pameran dari hasil workshop tersebut, dengan tema “Ruang Tinggal Dalam Kota”. Mengapa ‘Ruang Tinggal’? Dan Mengapa ‘Kota’? Karena ruang tinggal adalah kebutuhan hakiki semua orang dan kota telah menjadi habitat lebih dari 50% populasi manusia di muka bumi.</p>
<p style="font:10px Times New Roman;min-height:11px;margin:0;">
<p style="font:10px Times New Roman;margin:0;">Workshop dan Pameran ini adalah sebuah upaya meninjau kembali cara kita menempatkan diri dalam ruang – entah itu dalam sebuah ruang tinggal yang pribadi, atau dalam kota, atau keduanya.  Rumah, dalam arti dan wujudnya yang konvensional, bisa jadi tidak lagi efektif untuk cara kita hidup dan tinggal saat ini. Karena itu, kami lebih memilih untuk menggunakan istilah ‘ruang tinggal’. Selain untuk membebaskannya dari konotasi rumah – yang dekat sekali dengan <em>landed house</em>, juga untuk membebaskannya dari ‘wujud’.</p>
<p style="font:10px Times New Roman;min-height:11px;margin:0;">
<p style="font:10px Times New Roman;margin:0;">Kota dipilih sebagai konteks karena, seperti telah disebut di atas, lebih dari 50% populasi dunia bermukim di kota (data ini didapat dari survey yang dilakukan oleh mahasiswa Harvard dalam riset yang difasilitatori oleh Rem Koolhas tentang mutasi). Di dalam kota kita bisa membaca semua fenomena kekinian yang menghadirkan ambiguitas ruang tinggal. Ambiguitas itu begitu nyata kini. Kehilangan diri di tengah urban amnesia, kita akan bertemu dengan ruang-ruang yang banal dan ruang-ruang yang didefinisikan sebagai ruang-ruang tak sadar diri dari kota: memori-memori yang tertindas, penolakan, ketidakadaan kontrol –  yang telah menghasilkan sebuah sistem dari ruang-ruang kosong yang didalamnya kita hanya mungkin melayang.</p>
<p style="font:10px Times New Roman;min-height:11px;margin:0;">
<p style="font:10px Times New Roman;margin:0;">Karena itu banyak sekali yang bisa kita pertanyakan kembali. Apa itu ‘tinggal’ ketika ia tak lagi sekedar ‘diam’ atau ‘berdiam’ dan  kita tidak lagi terikat oleh ‘tempat’? Apakah ‘kota’  ketika satu dan lainnya di menjadi ‘sama’ di seluruh dunia? Apa arti ‘memori’ buat sebuah kota yang terus berubah? Benarkah kita memerlukan definisi baru untuk sebuah ruang tinggal dalam kota? Karena, seperti telah disebutkan dalam pengantar di atas, wacana ini telah ada beribu tahun yang lalu?</p>
<p style="font:10px Times New Roman;min-height:11px;margin:0;">
<p style="font:10px Times New Roman;margin:0;">Di dalam profesinya, ruang tinggal bukanlah sebuah hal yang asing bagi arsitek. Tapi sering ia mewujud sebagai produk dari satu paradigma, nilai-nilai, dan kebiasaan yang tidak dipertanyakan lagi. Lebih merupakan sebuah proses yang ‘otomatis’. Karena itu, banyak sekali akhirnya kita menemukan rumah-rumah yang ‘terasing’, lepas dari konteksnya, dan tak berbicara apa-apa.</p>
<p style="font:10px Times New Roman;min-height:11px;margin:0;">
<p style="font:10px Times New Roman;margin:0;">Workshop yang telah berlangsung mulai dari akhir bulan Mei ini, kini hampir usai dan hasilnya siap dipamerkan. Mungkin terlalu jauh apabila dari Workshop dan Pameran ini diharapkan dihasilkan solusi-solusi dari masalah ruang tinggal dalam kota. Tapi akan menarik untuk melihat bagaimana hal ini ditelaah dengan pikiran terbuka dan keberanian bereksplorasi. Bukan tidak mungkin ada alternatif-alternatif inspiratif yang bisa jadi pilihan untuk sebuah terobosan dalam mendesain dan menjadi acuan untuk memahami masalah ruang tinggal dalam kota.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=61&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/09/03/arsitek-muda-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Workshop AMI 29-Juli-2009</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/08/05/review-workshop-ami-29-juli-2009/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/08/05/review-workshop-ami-29-juli-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 00:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu terpaksa workshopnya di kabarkan sedikit mendadak, karena adanya konfirmasi mendadak dari venue awal, yang mengatakan bahwa ruang mereka tidak dapat di pakai untuk menyelenggarakan workshop ini. Akhirnya setelah mencari beberapa saat, kita berhasil dengan sukses kembali ke Serambi Salihara untuk berkumpul. Malam itu ada 4 kelompok yang datang untuk berdiskusi. 1. Kelompok ruang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=59&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu terpaksa workshopnya di kabarkan sedikit mendadak, karena adanya konfirmasi mendadak dari venue awal, yang mengatakan bahwa ruang mereka tidak dapat di pakai untuk menyelenggarakan workshop ini. Akhirnya setelah mencari beberapa saat, kita berhasil dengan sukses kembali ke Serambi Salihara untuk berkumpul.<br />
	Malam itu ada 4 kelompok yang datang untuk berdiskusi.<br />
1. Kelompok ruang, waktu, tempat.<br />
2. Kelompok Nenek moyang ku orang pelaut.<br />
3. Kelompok Mobile house.<br />
4. Kelompok Linear City.<br />
	Masing-masing kemudian di review oleh Marco Kusumawijaya, Avianti Armand, Irianto P.H dan Yori Antar. Keempat kelompok ini mendapatkan sambutan yang baik dari para reviewer, dan dari sini diharapkan  </p>
<p><strong>Kelompok ruang waktu tempat,</strong></p>
<p>	Ada masukan dari mas Marco, bahwa sebaiknya metode yang digunakan, juga di-ujicobakan dalam skala yang lebih kompleks. Dalam hal ini, di dalam sebuah kampung, atau lingkungan tinggal tertentu, agar metodenya menjadi lebih objektif dan lebih sahih.  Ada dua desain  yang malam itu di presentasikan, (dan menurut mereka masih akan ada lagi), dua-duanya mendapatkan review yang baik dari mas Marco dan Mbak Vivi. </p>
<p><strong>Kelompok Mobile House. </strong></p>
<p>	Masukan dari mas Anto, untuk membuat skema ini dalam konteks kota. Memperbanyak jumlah tower sehingga didapatkan gambaran bagaimana sistem ini bekerja dalam tataran kota, dengan begini skema ini menjadi memiliki pengaruh yang cukup besar, karena memberi gambaran tentang cara bermukim kota yang baru. </p>
<p><strong>Kelompok Nenek Moyangku Orang Pelaut</strong></p>
<p>	Skema yang sudah matang, dan terlihat tujuannya. Beberapa masukan dari para reviewer adalah agar desain ini bisa di bikin lebih mendetail, sehingga bahan material dan mekanisme kerjanya bisa terselesaikan dengan baik. Dengan penyelesaian desain hingga tahap detail, diharapkan desain ini bisa di tawarkan kepada pemerintah kota untuk dapat digunakan ketika ada banjir. </p>
<p><strong>Kelompok Linear City</strong></p>
<p>	Memiliki latar belakang yang cukup kuat, namun sama seperti kelompok mobile house, skema desain ini baru akan terasa pengaruhnya ketika di implementasikan untuk seluruh kota, dan bukan hanya sebagian area tertentu saja. Data-data perbandingan antara suply dan demand kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat jakarta, adalah data-data yang di butuhkan secara lebih lengkap, untuk menyempurnakan skema ini. </p>
<p>Blackout Architecture.<br />
	Skema ini mengalami kesulitan untuk menemukan wujud arsitekturnya. Sensasi-sensasi ruang selain sensasi visual yang coba untuk di tampilkan pada skema ini, seperti kehilangan integritasnya ketika hendak mewujud. Untuk masalah ini, mas Yori memberikan masukan, bahwa sebetulnya sebuah ide arsitektural tidak perlu mewujud menjadi bangunan untuk dapat tersampaikan. Yang terpenting adalah, bahwa skema ini dapat memberikan inspirasi dan stimulan bagi orang yang melihat, untuk dapat membuat ide yang lebih baik. </p>
<p>Secara keseluruhan, diskusi malam itu sangat membangun. Masukan-masukan dari para reviewer pun merupakan masukan-masukan yang memperkaya masing-masing proposal yang malam itu dipresentasikan.<br />
Kami berharap rekan-rekan yang lain dapat mempresentasikan progress proposalnya masing-masing untuk bisa dibagi dan di rembukkan ber-ramai-ramai. </p>
<p>Tetap Semangat!</p>
<p>Salam,<br />
Danny Wicaksono</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=59&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/08/05/review-workshop-ami-29-juli-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Presentasi Workshop 20 Mei 2009</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/06/07/review-presentasi-workshop-20-mei-2009/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/06/07/review-presentasi-workshop-20-mei-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 11:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[revi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Review di bawah ini hanya untuk melengkapi apa yang telah ada sebelumnya, baik dari saya maupun dari Adi Purnomo. Saya berharap semoga review ini dapat berguna untuk mempertajam eksplorasi para peserta workshop terhadap proposal masing-masing.  Sayang sekali saya hanya bisa mereview beberapa yang sempat saya lihat presentasinya. RUANG BAYANGAN Masih belum jelas bagi saya apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=50&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Review di bawah ini hanya untuk melengkapi apa yang telah ada sebelumnya, baik dari saya maupun dari Adi Purnomo. Saya berharap semoga review ini dapat berguna untuk mempertajam eksplorasi para peserta workshop terhadap proposal masing-masing.  Sayang sekali saya hanya bisa mereview beberapa yang sempat saya lihat presentasinya.</p>
<p>RUANG BAYANGAN<br />
Masih belum jelas bagi saya apa yang dimaksud dengan ‘ruang bayangan’ – apakah sebagai metafor atau sebagai sesuatu yang nyata. ‘Bayangan’ bisa jadi metafor yang baik untuk sesuatu yang indefinitif, tidak tetap, juga tidak legal. Tapi sebagai sesuatu yang nyata, ruang-ruang negatif dalam kota – seperti ruang kosong di bawah jembatan, ruang-ruang di antara gedung-gedung tinggi, kampung-kampung di belakang megablock – dapat disebut sebagai ‘ruang bayangan’.<br />
Ketidak jelasan yang lain adalah: pinggir sungai dan bambu. Pinggir sungai bisa saya baca sebagai satu ‘ruang bayangan’, namun alasan kenapa memilih pinggir sungai ini belum diangkat secara proporsional, sehingga kesannya seperti ‘tiba-tiba’. Sama seperti mengapa tiba-tiba bambu. Apa hubungan antara ‘ruang bayangan’ dengan bambu?<br />
Jika bambu dianggap sebagai material ‘bayangan’ mungkin justru  benar karena selama ini, dia hanya dimanfaatkan untuk sesuatu yang sementara atau pengganti seperti pagar temporer, penyangga bekisting ketika kayu terlalu mahal, atau sekedar material untuk rumah binatang (kandang ayam dan kandang sapi). Padahal  bambu adalah material yang sangat mudah diperoleh, murah, bisa diaplikasi dengan berbagai cara, bisa diperbaharui, dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Singkatnya: berkelanjutan.<br />
Saya setuju dengan Adi Purnomo. Sepertinya ada dua issue yang jadi fokus di sini. ‘Ruang bayangan’ dan bambu – sebagai material yang berkelanjutan namun juga belum dianggap ada (bayangan). Mungkin lebih baik dipilih salah satu agar bisa dieksplorasi dengan lebih baik. Atau jika ingin menyambungkan dua hal di atas maka beberapa mata rantai yang hilang itu harus ditemukan.</p>
<p>MOBILE HOUSE<br />
Berbeda dengan proposal awal yang cukup fokus, pada presentasi dalam format 20 slide, proposal ini justru seperti ‘kedodoran’ karena perhatian lalu meluas ke hal-hal lain seperti gated community dan sub-urbanism. Saya berharap, ini cuma akibat keharusan untuk menyajikan 20 slide, yang terlalu banyak dan justru mengakibatkan kebingungan.<br />
Meskipun begitu, saya melihat ada satu metodologi pendekatan yang menjanjikan yaitu pendataan quality time dengan table yang akan dapat mengidentifikasi tempat-tempat yang paling sering dihuni, yang penting dalam penyusunan core: isi dan bentuknya. Masalahnya mungkin survey. Pendataan seperi ini membutuhkan sample survey yang cukup luas dan intensif. Waktu yang tersedia tidak banyak. Saya kuatir pada akhirnya akan terlalu banyak hal yang terpaksa diasumsikan.</p>
<p>PENATAAN CILIWUNG<br />
Bagaimana harus memberi judul pada proposal ini? Dari yang awalnya Sebuah Kata-kata (ada twisted error di sini ☺), lalu jadi Grid dan Chaos, tiba-tiba menukik ke Ciliwung. Seperti kata Adi Purnomo, kita bisa menggunakan grid untuk memetakan masalah dalam kota yang chaos, dan sungai memang adalah salah satu masalah (atau potensi) dalam kota. Tapi kalau mau mengangkat Sungai Ciliwung sebagai satu proposal dalam workshop ini, akan sangat baik kalau dieksplorasi lebih jauh tentang sungai itu sendiri (sejarah, peranannya dalam pembentukan pemukiman atau ruang tinggal di Jakarta, kondisinya sekarang, kedekatan hubungan antara manusia dengan sungai, dan lain-lain) sebelum keluar dengan ‘rumah pohon’ sebagai solusinya.</p>
<p>Dari foto-foto yang dipaparkan dalam presentasi terakhir, saya melihat sesuatu yang malah tidak disinggung sama sekali, yaitu masalah sampah. Sungai, lepas dari berbagai potensinya, kini terabaikan dan hanya dijadikan ‘tempat sampah kota’ – baik sebagai metafor maupun dalam bentuk nyata. Kenapa? Apakah ada hubungannya dengan kenyataan bahwa sungai sekarang telah jadi daerah ‘belakang rumah’? Bukankah ini menarik untuk diselidiki? Di banyak kota dengan sungai besar, seperti Melbourne (Yarra) dan London (Thames), sungai memegang peranan penting dalam kehidupan kota. Bagaimana dengan Jakarta dan Ciliwung? Kaitannya dengan ruang tinggal? Kaitannya dengan rumah pohon? Apalagi, dalam mengajukan rumah pohon sebagai solusi, disebut-sebut bahwa ini bisa mendukung sektor pariwisata? Masih banyak yang harus dikerjakan.</p>
<p>BLACK OUT ARCHITECTURE<br />
Selain dari review yang telah saya berikan sebelumnya, di mana saya sempat menyebutkan bahwa: dalam ‘melihat’ selamanya tersirat jarak – dalam presentasi ini saya mengharapkan adanya hint, petunjuk awal tentang karakter ruang-ruang yang akan dihasilkan dengan menajamkan indera lain.<br />
Dalam ‘mendengar’, selain ada lansekap dan dimensi ruang (suara rendah, suara tinggi, suara dari jauh, suara dari dekat) terkait pula dimensi waktu (suara mulai terdengar, suara menghilang), yang dalam ‘melihat’ tidak terindera karena ‘melihat’ menghadirkan semua hal  pada saat yang bersamaan (present). Kualitas ruang seperti apa yang bisa hadir dari kepekaan terhadap ‘waktu’?<br />
Dalam ‘merasa’, kita dituntut untuk peka terhadap hal-hal yang tidak tercatat. Seperti panas dan dingin. Suhu udara bisa dicatat oleh termometer. Tapi panas dan dingin hanya bisa dirasakan oleh kulit. Juga lembab dan kering. Kasar dan halus – sehingga dalam ‘merasa’ juga tersirat gerak dan jarak. Bukankah ada gerak dan jarak tertentu yang memungkinkan kita meraba lalu merasakan halus dan kasar itu? Pertanyaan yang sama: kualitas ruang seperti apa yang bisa hadir dari kepekaan terhadap ‘rasa’?<br />
Begitu juga dengan penciuman dan pencecapan. Saya tidak tahu metode apa yang akan dipakai untuk menelaah mengenai kaitan antara ruang dan indera selain penglihatan ini – tapi saya yakin, jika berhasil, ini akan dapat membantu mendefinisi hal-hal paling mendasar yang dibutuhkan manusia dari sebuah ruang tinggal.</p>
<p>FENOMENA COMMUTER DAN WARUNG ROKOK<br />
Terus terang, apa yang dipaparkan dalam presentasi kali ini menjadi tidak jelas. kalau dalam review sebelumnya, saya membaca ada masalah ‘batas’ antara ruang pribadi dan kota dalam kasus warung rokok dan commuter, maka disini pembahasan malah jadi meluas dan tidak relevan.<br />
Berbicara soal commuter berarti bicara soal pergerakan dari pinggiran (periphery) ke pusat. Dengan berbagai moda transportasi (mobil, kereta api, helicopter) pergerakan itu menghasilkan lintasan-lintasan (jalan, jalan tol, rel kereta api, jalur udara). ‘Ruang jeda’, yang dimaksudkan sebagai ‘tempat singgah’, masih kabur contoh dan pemaknaannya.<br />
Jika contoh ‘ruang jeda’ yang disebutkan adalah rumah kos-kosan lengkap dengan fasilitasnya yang serupa hotel, juga warung rokok yang sebenarnya adalah tempat tinggal permanen, maka sebenarnya tempat-tempat itu sudah ada dan berada di pusat. Bukan di ‘antara’. Maka tentunya mereka tak bisa disebut sebagai ‘ruang jeda’, bukan?<br />
Saya masih tetap tertarik untuk menelaah mengenai ‘batas’ itu, setipis atau setebal apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh sebuah ruang tinggal untuk memisahkan antara ruang pribadi dan publik, yang dalam hal ini adalah kota. Tapi jika pembahasan ingin difokuskan pada ‘ruang jeda’, ada baiknya eksplorasi terhadap lintasan yang terjadi karena pergerakan para commuter ini lebih diintensifkan.</p>
<p>RUMAH INI TIDAK DIJUAL<br />
Untuk proposal ini, saya rasa review saya sebelumnya masih relevan.</p>
<p>Avianti Armand</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=50&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/06/07/review-presentasi-workshop-20-mei-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Terbuka Adi Purnomo untuk kegiatan workshop AMI di Salihara &#124; 27 Mei 2009</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/28/surat-terbuka-adi-purnomo-untuk-kegiatan-workshop-ami-di-salihara-27-mei-2009/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/28/surat-terbuka-adi-purnomo-untuk-kegiatan-workshop-ami-di-salihara-27-mei-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 14:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Rekan-rekan, Ini mungkin akan tetap panjang meski saya coba sependek mungkin. Mohon maaf, saya tidak cukup mengikuti apa yang terjadi di awal, tapi semua rangkaian menjadi tiba-tiba, mungkin karena mengejar sebuah tanggal. Saya diminta menjadi reviewer dan untuk itu juga harus memilih sejumlah proposal/abstrak dari 40an yang masuk dengan cepat-cepat. Saya belum sepenuhnya memilih karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=41&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan-rekan,</p>
<p>Ini mungkin akan tetap panjang meski saya coba sependek mungkin. Mohon maaf, saya tidak cukup mengikuti apa yang terjadi di awal, tapi semua rangkaian menjadi tiba-tiba, mungkin karena mengejar sebuah tanggal. Saya diminta menjadi reviewer dan untuk itu juga harus memilih sejumlah proposal/abstrak dari 40an yang masuk dengan cepat-cepat. Saya belum sepenuhnya memilih karena merasa belum cukup mengerti dengan apa yang dimaksud dari semua proposal yang masuk. Beberapa juga merupakan topik yang berulang, jadi kalau memilih satu seharusnya memilih semua. Untuk itu saya lebih menyerahkan pilihan pada reviewer lain.</p>
<p>Abstraksi workshop bisa diartikan dengan sangat bebas, meskipun saya mencoba menarik kesimpulan bahwa yang diharapkan adalah sebuah pendefinisian baru tentang konsep “tinggal” di masa sekarang di suatu “konteks kota”. (Saya tidak berani mengatakannya sebelum ini karena seperti mengacak-acak yang sudah berlangsung). Saya tertarik pada kata “konteks kota” dan membayangkan ada banyak kasus kota yang dibawakan disini, mulai dari kota-kota besar sampai kota-kota kecil. Pasti akan jadi wacana yang lebih menarik dan berguna mengingat adanya otonomi daerah dimana Pemerintah Dati II berkuasa sepenuhnya terhadap pengembangan ruang. Bagaimana kita menanggapi cara berhuni di kota-kota seperti Tenggarong (Kutai) misalnya yang tiba-tiba terdapat perkembangan seperti itu? Atau kota-kota kecil yang “diserang” developer Jakarta seperti Padangsidempuan dengan mal raksasa, atau tidak usah terlalu jauh seperti Tegal dengan perumahan dan hal-hal serupa yang “men-Jakarta” yang mungkin terjadi di banyak kota kecil lain di Indonesia. Bagaimana hunian bergerak mencari arah pada semua gejala perubahan semacam itu. Pertanyaan akan “akar” cara manusia berhuni rasanya bisa lebih terlihat dan lebih dekat untuk diwacanakan dari sini.</p>
<p>Akan tetapi mungkin karena keterbatasan waktu (atau juga jaringan?), ketika hampir semua proposal yang masuk memakai Jakarta sebagai konteks. Apa yang bisa kita lampaui dari pemikiran-pemikiran yang sudah ada ketika Jakarta dipakai sebagai konteks? Demikian yang kemudian menjadi pertanyaan saya lebih lanjut ketika membaca proposal-proposal yang masuk. Melihat sebaran pilihan topik dan tatacara penelusurannya, rasanya perlu sebuah arahan yang lebih jelas/konkret dari abstraksi workshop ini. Apakah ada yang perlu lebih digaris-bawahi di antara “definisi ruang tinggal baru” dan “permasalahan kota”? Kemudian apa yang diharapkan sebagai tujuan akhir- sesuatu perwujudan dalam rancangan yang lebih mengarah realistik atau gagasan di awan tapi masih sanggup menginspirasi kehidupan kita sekarang? Atau kedua/semuanya? Ada konsekuensi tertentu dengan penelitian yang harus dilakukan dengan batasan waktu dua bulan yang ada. Bagaimana mensiasati ini? Menurut saya harus ada yang memberi arah yang kuat terutama bagi proposal-proposal yang masih mencari dasar pemikiran yang kuat. Yang paling berhak tentu saja yang menuliskan abstraksi workshop yaitu Vivi.</p>
<p>Barangkali banyak yang belum terungkap karena belum terjadi suatu diskusi. Bukankah workshop semacam ini merupakan medium berdiskusi sebenarnya? Format penyelenggaraanya juga musti dilihat ulang rasanya. Entah karena formatnya atau karena materinya yang membuat beberapa peserta pulang mendahului terlebih dulu dan tinggal bersisa separo kalau saya tidak salah lihat. Untuk itu saya coba memberi komentar satu persatu secara terbuka dari peserta yang mempresentasikan proposalnya pada Rabu malam 27 Mei 2009 di Salihara dalam kapasitas saya sebagai reviewer. Moga-moga nanti terjadi diskusi yang lebih jauh. Saya berusaha tidak membuat kutipan atau referensi contoh untuk mencoba jernih terhadap subyek yang dipilih peserta.</p>
<p>RUANG MIMPI</p>
<p>Topik hunian “terpinggir” seperti ini akan selalu aktual selama kondisi negeri/kota-kota kita masih seperti sekarang ini. Ada (lebih) banyak isu yang berada di luar wilayah arsitektur ketika berhadapan dengan permasalahan seperti ini. Bagaimana arsitektur menjadi sebuah alat perpanjangan tangan atas hal-hal diluar wilayah tadi merupakan tantangan proposal ini. Bagaimana bisa melampaui jebakan klise merupakan tantangan berikutnya. Mungkin juga pertanyaan tadi refleksi terhadap diri saya sendiri. Mendalami dan melakukan pencarian data/permasalahan dibalik yang terlihat bisa menjadikan proposal ini lebih tajam dalam jawaban.</p>
<p>ARSITEKTUR BINATANG</p>
<p>Saya ingin melihat apakah proposal ini bisa melepaskan diri dari batas metafor saja. Bagaimana jika konteks kota dipandang sebagai lansekap tempat untuk tinggal. Slum yang menjadi “residu kota” apakah tidak sama halnya dengan rumah berang-berang di tengah hutan beton? Bagaimana kalau kita belajar dari gejala ini sambil juga belajar hukum sebab akibat yang ada di alam ini? Mungkin itu pelajaran utama ketika melihat perilaku mahluk-mahluk membangun di alam ini.</p>
<p>NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT</p>
<p>Jakarta tenggelam dan “Noah’s Ark”? Saya seperti menangkap presentasi ini sebagai sebuah ujung yang terkunci: apa lagi yang hendak dieksplore ketika sudah diputuskan jawabannya adalah rumah perahu? Dengan fakta banjir Jakarta yang sudah begitu lama, apakah perlu untuk melihat terlebih dahulu mengapa dari dulu orang tidak juga membuat rumah perahu atau rumah panggung. Barangkali bisa lebih memperkuat alasan adanya rumah perahu kalau memang itu. Lepas dari materinya judul proposal ini menggelitik saya untuk menyandingkan orang Jakarta yang asing (diasingkan?) dengan pantainya…</p>
<p>DIDEDIKASIKAN UNTUK KOMUTER</p>
<p>Subyek jalan tol yang justru dilihat sebagai kesempatan lain untuk mendapatkan suatu kualitas tinggal, paling tidak itulah yang terbaca oleh saya. Ada unsur satirik yang memancing untuk melihat lebih jauh apa yang bakal terjadi ketika “ketidak-mungkinan” ini ditelusuri. Data dan pengolahannya menjadi bagian yang krusial untuk proposal  ini. Jika melihat potensi luasan jalan tol akan bisa memancing berbagai gagasan lanjutan.</p>
<p>RUANG.WAKTU.TINGGAL</p>
<p>Pertanyaaan terhadap lamanya waktu tinggal pada sebuah tempat atau benda untuk mendefinisikan kembali makna ruang tinggal membuka perhatian saya. Namun juga membawa kekawatiran atas waktu workshop sendiri. Dua bulan untuk mencari semua varian, mungkin hanya akan tercapai pada beberapa varian dasar (atau menjadi tipologi?) saja. Perlu dicari upaya yang cukup sistematik untuk menyelesaikan jawabannya.</p>
<p>LINEAR CITY</p>
<p>Proposal awal memperlihatkan maksud yang lebih jelas ketika jalur-jalur lintasan dipakai sebagai tempat menaruh semua fungsi kota dan membiarkan sisanya menjadi area hijau. Ketika dipresentasikan, justru terlihat kebingungan atau keraguan terhadap masalah-masalah yang lalu bermunculan dengan “pemadatan” semacam itu. Penelitian dan pemecahan masalah yang ditemukan pada konflik-konflik jalur vertikal dan horisontal ini yang mungkin justru harus diperlihatkan guna menguji apakah ada peluang terjadinya hal linier semacam ini.</p>
<p>METABOLISME KOTA JAKARTA</p>
<p>Sepertinya ada banyak sekali isu yang hendak di bicarakan dalam proposal ini. Saya tidak melihat hubungan antara hal-hal yang dibicarakan seperti misalnya perang dunia arsitektur dengan sel unit tunggal yang bisa membelah dan berbiak memperbaiki kota. Rasanya perlu merumuskan kembali dengan lebih jernih dan sederhana apa sebetulnya yang hendak dimaksudkan.</p>
<p>Ketika judulnya adalah metabolisme kota, saya sempat mengira akan mendapati hal-hal semacam analogi gejala tubuh, penyakit dan penyembuhannya dengan permasalahan kota. Apakah kemacetan identik dengan penyumbatan pembuluh darah misalnya. Atau fungsi hati dan kelenjarnya mengurai racun dengan mekanisme pengelolaan sampah kota? Apakah logika kesehatan/kedokteran mempunyai kemungkinan untuk dipakai sebagai “jembatan keledai” menormalkan kembali metabolisme tubuh kota? Bantar Gebang perlu cuci darah atau transplantasi hati? Yang seperti apa? Dsb, dsb.</p>
<p>RUMAH INI TIDAK UNTUK DIJUAL</p>
<p>Mengkonfrontir isu komersial dan komodifikasi sepertinya adalah sebuah “ketidak-mungkinan” ketika berbicara pada konteks kota. Kota hidup darinya. Lalu ketika hal itu dihapuskan dulu untuk mencari “akar” bagaimana orang tinggal (dengan seperlunya) bagaimana konflik yang terjadi membuka kemungkinan pengertian ruang tinggal yang lainnya lagi? Itu yang saya tangkap dari proposal ini. Saya ingin tahu ketika dibedah dan friksi itu terjadi, apa kemungkinan-kemungkinannya?</p>
<p>RUANG JEDA DALAM KOTA BAGI KOMUTER</p>
<p>Ketika kita berada dalam telur dadar itu, bukannya semua hal bisa berada (atau serasa) dalam jangkauan kita mestinya? Tapi lalu ternyata komuter dalam jumlah besar masih menjadi permasalahan. Lalu saya berpikir sendiri, bagaimana jika ternyata isu ini hanya sekedar permasalahan sarana transportasi saja? Ketika kehidupan takluk pada permasalahan kota seperti Jakarta, kita jadi merasakan perlunya ruang jeda. Ketika titik terjauh misalnya Pasir Ris ke Marina Square (Singapura) hanya ditempuh dalam 15-20 menit atau Tokyo-Kyoto dalam waktu yang sama apakah ruang jeda ini relevan dengan isu komuter, karena transportasi itu sendiri ruang jedanya. Ruang jeda bagi komuter lalu menjadi khas Jakarta. Menjadi masuk akal tapi “miris”, bukan satirik lagi. Data dan pengolahannya diperlukan untuk menguji fakta tentang komuter itu sendiri. Apakah dengan ada jeda menjadi lebih ekonomis atau mudah atau apapun yang memberi kualitas lebih baik bagi kehidupan komuter itu sendiri.</p>
<p>BLACKOUT ARCHITECTURE</p>
<p>Bagaimana metode merancang suatu obyek atau ruang tanpa ada “preoccupy” sensor visual ketika setiap hari kita masih menggunakan sensor ini untuk alat menjalani kehidupan, ketika presentasi yang dilakukan masih berbasis visual karena audiencenya berbahasa visual juga? Itu pertanyaan yang muncul ketika saya membaca proposal ini dengan harafiah. Saya membacanya ulang dengan terpejam. Tapi ingatan akan visual tulisan itupun masih membayang. Ingatan orang yang pernah melihat berbeda dengan ingatan orang yang sama sekali tidak pernah melihat. Saya lalu merasa lebih nyaman untuk membaca proposal ini sebagai “menutup mata untuk membuka mata hati”…  mungkin juga ini bukan yang dimaksud oleh “author”nya karena metodenya “tak terjelaskan”.</p>
<p>SEBUAH ANGAN UNTUK CILIWUNG (SEBUAH KATA-KATA)</p>
<p>Maaf, saya benar-benar tidak bisa menangkap cara atau runtutan berpikir dalam proposal ini. Yang ada pertama kali adalah pemikiran menumpukkan suatu grid ke dalam sebuah wilayah kota sebagai titik-titik untuk melihat dan sekaligus meletakkan sesuatu untuk memecahkan masalah. Itupun masih mengundang pertanyaan ketika dalam jarak antar titik tertentu bisa terdapat permasalahan lain yang lepas dari pengamatan. Lalu ketika tiba-tiba dipilih Ciliwung dan menjadikannya titik-titik linier bukan grid lagi. Seberapa banyak hal homogen atau heterogen dalam “stretch” Ciliwung tadi? Lalu tiba-tiba ada rumah pohon atas alasan isu lingkungan dan wisata? Barangkali perlu kembali ke awal terlebih dahulu dengan mengerti apa yang ingin dicari dari menumpangkan grid tadi.</p>
<p>MOBILE HOUSE</p>
<p>Proposal yang masuk justru lebih jelas maksudnya daripada saat dipresentasikan. Saya membacanya sebagai tawaran bagi developer untuk memakai lahan lebih sedikit dan mempunyai fleksibilitas bagi orang berpindah tinggal jika harus berpindah tempat kerja. Perlu responden yang cukup untuk menunjukkan bahwa waktu tempuh antara tempat kerja, sekolah dan sebagainya di setiap anggota keluarga memang benar seperti itu. Bagaimana jika sebetulnya jumlah seperti itu tidak banyak? Mungkin ada (atau banyak juga?) yang lebih memprioritaskan kedekatan tempat sekolah anak-anak dengan tempat tinggal sementara orang tua mengalah menempuh waktu lebih lama. Bagaimana jika core itu ternyata sekolah anak-anak? Dsb,dsb. Ada rentetan yang harus dilalui dengan mencari tahu fakta-fakta itu terlebih dahulu. 2 bulan waktu yang pendek sekali bahkan jika dikerjakan dengan waktu penuh.</p>
<p>RUANG BAYANGAN KOTA</p>
<p>Saya membacanya sebagai ketertarikan terhadap 2 isu yaitu sosial dan lingkungan hidup (isu-isu sustainable dsb), namun belum menemukan cara untuk mempertemukannya. Topik bayangan lebih saya tangkap sebagai gambaran sosial dimana kekuatan ekonomi, kekuasaan politik dsb ternyata “mengatasi” atau menutupi peri kehidupan lain di bawahnya, tidak cukup “mengayomi”. Ada keresahan tentang ketidak-adilan mungkin. Bagaimana isu ini pada tataran ruang dan arsitektur? Hal-hal apa yang bisa ditemukan dari yang mempunyai kekuatan/kekuasaan itu yang masih memberi peluang ruang kehidupan yang layak bagi yang tidak mempunyainya? Barangkali itu yang hendak dimaksudkan proposal ini? Isu kedua mempunyai sifat sekunder atau tidak dipakai sama sekali jika memang tidak berhubungan. Atau sebaliknya.</p>
<p>Secara umum, sementara ini saya melihat ada dua kecenderungan. Pertama adalah proposal yang memperlihatkan bagaimana,, kota mengubah cara tinggal dan hidup. Kehidupan seakan mengalah pada permasalahan kota, sehingga perlu bermutasi atau alat bantu. Jeda, transit, nomad, waktu dsb menjadi isu dalam kecenderungan ini. Yang kedua adalah ruang tinggal yang berusaha tidak takluk atau bahkan justru berusaha “menaklukkan” kota dan yang melepas semua konteksnya. Merebut kembali ruang-ruang publik atau ruang-ruang terpinggir untuk suatu kualitas yang lebih bermakna sebagai ruang tinggal merupakan salah satu hal dalam kecenderungan kedua ini. Ada yang hendak melepas semua konteks untuk menemukan definisi yang lebih murni, atau ada yang mengkonfrontir kualitas kehidupan pribadi/keluarga dengan gejala-gejala kota yang mereduksinya juga merupakan kecenderungan yang kedua. Kita lihat bersama saja apa yang akan terjadi dalam proses dan hasil akhirnya nanti.</p>
<p>Demikian sementara yang bisa tersampaikan dalam semua keterbatasan. Selamat bekerja untuk semua! Salam.</p>
<p>Adi Purnomo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=41&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/28/surat-terbuka-adi-purnomo-untuk-kegiatan-workshop-ami-di-salihara-27-mei-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review &#124; workshopAMI 21 Mei 2009 &#124; Avianti Armand</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/28/review-workshopami-21-mei-2009-avianti-armand/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/28/review-workshopami-21-mei-2009-avianti-armand/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 14:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Secara keseluruhan, proposal dari para peserta masih mempuyai  kelemahan struktural dan konseptual yang kami harap dapat diperbaiki dalam proses workshop. Secara struktural, belum ada yang mengusulkan metodologi dan latar belakang riset yang jelas yang telah maupun akan dipakai sebagai alat untuk mendukung hipotesa atau kecurigaan yang dikemukakan. Secara konseptual, banyak yang bahkan tidak sanggup menunjukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=39&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara keseluruhan, proposal dari para peserta masih mempuyai  kelemahan struktural dan konseptual yang kami harap dapat diperbaiki dalam proses workshop. Secara struktural, belum ada yang mengusulkan metodologi dan latar belakang riset yang jelas yang telah maupun akan dipakai sebagai alat untuk mendukung hipotesa atau kecurigaan yang dikemukakan. Secara konseptual, banyak yang bahkan tidak sanggup menunjukkan masalahnya. Pemikiran mengenai ‘ruang tinggal’ dan ‘kota’ masih sangat klise, juga tidak focus. Keduanya belum dipikirkan dengan sungguh-sungguh dan dimengerti sebagai dua entitas yang beririsan. Tapi dari yang ada, para reviewer akhirnya mampu memilih 17  proposal yang masing-masing akan kami beri komentar berikut ini:</p>
<p>BLACK OUT ARCHITECTURE<br />
Tentang ‘melihat’ dan indera lain.<br />
“Di atas tahta mereka, raja-raja menemukan analogi diri pada matahari : dari atas melihat ke bawah – dan dengan kemampuan visual itu mereka membuat peta, mereka kuasai wilayah, mereka atur barisan untuk menentukan nasib manusia.” (Tuhan dan hal-hal yang tak selesai, Goenawan Mohamad.)<br />
Jangan-jangan, apa yang tersebut di atas adalah apa yang dilakukan oleh perencana kota, arsitek, developer, dan orang-orang yang punya wewenang mengatur dan merencanakan kota.<br />
Dalam melihat, selamanya terirat ‘jarak’. Karena itu sangat mungkin terjadi ketidakpekaan dan ketakterkaitan pada yang dilihat yang sangat memungkinkan terjadinya salah interpretasi. Berbeda dengan indera lain yang membutuhkan kedekatan untuk dapat berfungsi dengan baik. Indera lain mempunyai ‘keterbatasan jangkauan’, karenanya justru jadi sangat personal. Intim. Jangan-jangan, dengan menggunakan indera lain sebagai acuan, luas ruang yang kita butuhkan tidak sebesar yang selama ini kita pikir kita butuhkan. Jangan-jangan ada kualitas ruang tertentu yang akan muncul jika kita memperhatikan indera lain dalam merancang. Dalam jumlah banyak, tentunya itu akan mempengaruhi kota dan tantanannya.</p>
<p>DIDEDIKASIKAN UNTUK KOMUTER<br />
Ada dua hal yang menarik di sini:<br />
1.    Perlawanan kaum lemah yang menggelitik. Lucu, tapi juga tajam.<br />
2.    Menaklukan yang diam dengan gerak = menjinakkan ‘gerak’ menjadi satu tempat yang bisa ditinggali.<br />
Arsitektur, termasuk juga jalan tol, adalah alat yang paling mudah dipakai untuk menegaskan kekuasaan, seperti monumen, menara, istana, gedung kapitol, dan sebagainya. Jalan tol adalah penanda kekuasaan/kekuatan modal.<br />
Usulan untuk mengklaim/merebut jalan tol  menjadi ruang tinggal publik adalah pemberontakan yang tidak anarkis karena yang diusulkan bukanlah ‘menduduki ‘(diam) – tapi ‘bergerak’ di dalamnya sekaligus menghuni. Ini memberi arti baru untuk ‘tinggal’ yang selama ini identik dengan ‘diam’.<br />
Kalau di dalam proposal disebutkan bahwa proposal ini secara radikal menggugat jalan tol, maka sebenarnya tidak, karena dia justru menyetujui – bahkan memanfaatkan ruang ini secara maksimal. Dengan begitu dia justru memperoleh keuntungan-keuntungan seperti yang disebutnya: melewati titik-titik strategis kota, pemandangan indah Jakarta, hemat waktu, dsb.</p>
<p>KETIKA ARSITEKTUR BERFASHION<br />
Saya memilih proposal ini justru karena tidak setuju bila arsitektur dianggap sama dengan fashion. Itu yang terjadi sekarang, dan itu yang , menurut saya, mendangkalkan arsitektur.<br />
Saya pernah menulis begini tentang fashion:<br />
“Ia adalah hal-hal yang tidak berdasar. Hal-hal yang kelihatannya punya makna lebih dalam, tapi dalam kenyataannya adalah tanpa dasar atau justifikasi yang substantif. Hal-hal yang berumur pendek. Temporer.”<br />
Tapi jangan-jangan hanya itu yang kita butuhkan di masa di mana semua berubah dengan cepat? Siapa bilang bahwa arsitektur harus ‘selamanya’? Jangan-jangan memang bisa – dan bahkan mungkin lebih efektif – bila kota dan arsitektur dirancang seperti sebuah ‘stage set’? hanya ‘seolah-olah’? seasonal architecture?<br />
Ada dimensi waktu yang berperan penting dalam fashion. Karena itu, sebelum meloncat ke hal lain seperti aksesoris dan untaian ruang publik, mungkin lebih baik dicari dulu masalah-masalah arsitektural yang terkait dengan ‘waktu’, dengan mengunakan fashion sebagai analogi.</p>
<p>MOBILE HOUSE<br />
Konsep mobile house sendiri sebenarnya bukan hal yang baru. Yang baru adalah ‘core’ itu. Tentu harus ada riset yang mendahului pemisahan ruang tinggal,  yang akhirnya hanya jadi sekedar container yang dapat berpindah-pindah dengan mudah, dari hal-hal esensial yang mendukung kehidupannya, yang nantinya akan dimuat di dalam core.</p>
<p>RUANG MIMPI<br />
Ruang mimpi di sini diartikan sebagai ruang singgah atau transisi – sementara – sebelum ada ruang tinggal yang lebih ‘tetap’.  Ada konteks dan program ruang yang sudah jelas, tapi tetap harus ditelaah lagi agar  tidak sekedar terjebak pada sentimentil yang berlebihan.<br />
Tapak: samping rel kereta api – karenanya tidak legal, juga berbahaya.<br />
Kebutuhan ruang:  ruang untuk meluruskan punggung, taman bermain anak-anak, kebun sayur untuk         hidup, ruang bersama multifungsi.<br />
Masalahnya lalu, bagaimana menyiasati yang ‘sementara’ ini – agar penghuni yang semula hanya singgah tidak lalu tinggal selamanya – dan menyusun argumen untuk statusnya yang illegal dan kondisinya yang berbahaya.</p>
<p>FENOMENA KOMUTER DAN WARUNG ROKOK<br />
Ada dua hal yang menarik dari proposal ini:<br />
1.    Luasan minimal untuk sebuah ruang tinggal.<br />
2.    Batas antara ruang pribadi dan ruang publik di dalam kota.<br />
Buat para komuter, batas itu adalah kaca dan pintu mobil. Buat warung rokok, batas itu adalah dinding-dinding multipleks dan gerai dagangnya. Dalam kedua kasus tersebut, batas tidak solid karena interior dan eksterior masih terkoneksi secara visual dan audial.<br />
Karena itu, ‘gua’ di sini harus diartikan sebagai metafor, bukan bentuk. Dan ‘batas’ itu menarik untuk dieksplorasi – apalagi apabila dikaitkan dengan: elasitsitas, fleksibilitas, transparansi, dan kualitas lain yang bisa dieksperimentasikan ke ruang tinggal.</p>
<p>TROPICAL CAPSULE BUNGALOW<br />
Idenya tidak baru, tapi tetap menarik, karena konteksnya lalu bisa di mana saja di dalam kota. Ini bisa jadi solusi pemukiman yang selalu terbentur pada ketersediaan lahan. Selain itu, bahan dan teknologi yang dipakai menarik. Ini bisa jadi material alternatif yang murah, mudah didapat, dan sustainable.  Bangunan bamboo bertingakat banyak juga akan bisa jadi riset teknologi membangun yang menantang.<br />
Tapi sebelum itu, ada pernyataan tersirat yang menarik dengan memilih bamboo sebagai material utama, yaitu: arsitektur tidak perlu abadi. Rasanya, dasar pemikiran ini perlu ditelaah lebih jauh ke belakang,  sebelum keluar dengan proposal tropical-capsule-bungalow.</p>
<p>RUMAH INI TIDAK DIJUAL<br />
Apakah mengembalikan rumah menjadi ruang tinggal yang sangat pribadi, bukan sebuah komoditi, akan dapat memperbaiki kota – sebagai sebuah ruang tinggal? Di sini irisan antara ‘ruang tinggal’ dan ‘kota’ mulai tersirat.<br />
Proposal ini menarik karena eksplorasi bisa ditarik ke akstrim lain. Bagaimana jika rumah justru dilepas dari segala sesuatu yang pribadi? Dengan sengaja dilepas dari hal-hal yang bisa memberinya identitas, bahkan kepemilikan? Bagaimana jika ruang tinggal hanyalah ruang bersama yang dipakai secara bergantian? Seperti satu mekanisme pemukiman komunis?<br />
Tidak dijual = tidak bisa dijual, karena merupakan milik bersama?</p>
<p>Karena Keterbatasan waktu, review ini akan segera di update.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=39&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/28/review-workshopami-21-mei-2009-avianti-armand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>-WORKSHOP_AMI 20Mei2009-Pengumuman Proposal</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/workshop_ami-20mei2009-pengumuman-proposal/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/workshop_ami-20mei2009-pengumuman-proposal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 01:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Update]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Salam, Kemarin malam, bertempat di Ruang Serambi Salihara, Teater Salihara di jalan Salihara no.16, para reviewer yang terdiri dari Adi Purnomo, Avianti Armand dan Jay Subijakto (Marco Kusumawijaya berhalangan untuk hadir), telah memilih 17 proposal untuk di workshopkan selama 2 bulan ke depan. Ini adalah ke 17 proposal terpilih : 1. Kota skala kita -Aris [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=11&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Kemarin malam, bertempat di Ruang Serambi Salihara, Teater Salihara di jalan Salihara no.16, para reviewer yang terdiri dari Adi Purnomo, Avianti Armand dan Jay Subijakto (Marco Kusumawijaya berhalangan untuk hadir), telah memilih 17 proposal untuk di workshopkan selama 2 bulan ke depan.</p>
<p>Ini adalah ke 17 proposal terpilih :</p>
<p>1. Kota skala kita -Aris Nuryahya,- Bandung</p>
<p>2. linear city-tria ardhita, odie banoreza, emilia faneysa shafira- Jakarta</p>
<p>3. metabolisme kota jakarta -Vidya Spay Fitria Hedyanti, Christina Sunario, Donatus Gurnito- Jakarta</p>
<p>4. mobile house-Andreas Susandika ™ Rama Adhitya -Jakarta</p>
<p>5. nenek moyangku orang pelauta-Denny Husin -Jakarta</p>
<p>6. ruang mimpi-Yu Sing- Bandung</p>
<p>7. arsitektur binatang -Fajar Putra Judadi- Jakarta</p>
<p>8. ruang dalam bayangan kota -YD Purwocahyono &amp; Teras- Jakarta</p>
<p>9. ruang kembali -Alva Sondakh- Manado</p>
<p>10. sebuah kata-kata -hengky,amy dan toha- Jakarta</p>
<p>11. ketika bandung menjadi berfashion dalam arsitektur -Putri Bothie-<br />
Bandung</p>
<p>12. blackout architecture-Noviardi Prasetya- Jakarta</p>
<p>13. didedikasikan untuk komuter-Elisa Sutanudjaja- Jakarta</p>
<p>14. fenomena komuter dan warung rokok -Rooseno Aji,Andri Satria,Sasha Media,Meutia Chaerani, Coki Wicaksono- Jakarta</p>
<p>15. rumah ini tidak dijual-Setiadi Sopandi- Jakarta</p>
<p>16. tropical capsule bungalow-Fransiska Prihadi- Bali</p>
<p>17. Ruang Waktu Tinggal -Andesha Hermintomo, Bunga Agustina Salwa, Endy Ersal, Fajar Rezandi, Gita M Sumitra, Mahadiyanto, Risa Guntari- Jakarta</p>
<p>Para pemilik proposal terpilih, diharapkan untuk segera mengkonfirmasi, dengan mengirimkan email ke workshop.ami@gmail.com yang berisi, konfirmasi kesediaan/ketidaksediaan mengikuti workshop dan nama anggota kelompok. Jika ada pertanyaan mengenai apapun tentang workshop ini juga bisa disertakan.</p>
<p>jumlah grup minimal 3 dan maksimal 7, tolong di konfirm nama anggotanya. kami menyarankan adanya kolaborasi baru antar anggota yang tidak seintituisi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita akan berkumpul kembali minggu depan tanggal 27 Mei 2009, di serambi teater salihara, dimana tiap proposal akan diminta untuk memberikan presentasi awal dalam format presentasi pecha kucha: presentasi 20 slide, dimana tiap slide berdurasi 25 detik. (apakah akan ada masalah mengenai hak cipta, untuk penggunaaan metode presentasi ini? mas dedy mungkin bisa membantu?) Bagi teman-teman yang berada di luar Jakarta, untuk sementara, presentasi mungkin akan di lakukan melalui media online meeting website, www.dimdim.com. Sambil berjalannya workshop, kita akan terus mencoba metode mana yang akan paling nyaman untuk kita pakai. Rasanya hingga saat ini, masalah yang paling besar adalah sambungan internet yang kurang kencang. Tapi rasanya kita pasti bisa mengatasi hal ini bukan?</p>
<p>Bagi rekan-rekan yang ingin mendengar rekaman suara-suara dari workshop malam tadi tanggal 20 mei 2009, bisa langsung mengunduh di link di bawah ini. Berikut, adalah rekaman penjelasan Adi Purnomo mengenai proposal2 yang masuk. Untuk selanjutnya kita akan mencoba untuk merekam seluruh diskusi yang berlangsung di tiap workshop, dan akan dibagikan via link unduh seperti ini.</p>
<p>WorkshopAMI 20 Mei 2009: http://www.mediafire.com/?oydkdmxyzhi</p>
<p>Karena harus di proses terlebih dahulu, maka rekaman video workshop tadi malam akan segera menyusul untuk di upload ke YouTube. Mohon untuk bersabar.</p>
<p>Kami mengundang siapa saja yang ingin datang untuk ikut serta, berpartisipasi, atau hanya sekedar melihat-lihat, untuk datang ke Serambi Salihara pada jadwal jadwal yang telah di rilis. Benar-benar gratis, dan benar-benar bebas untuk di singgahi.</p>
<p>Tahun lalu, jongArsitek, dalam rangka 100 tahun hari kebangkitan nasional, memilih 28 karya dari 28 arsitek muda Indonesia. Malam tadi, Workshop AMI, di 101 tahun hari kebangkitan nasional, telah memilih 17 proposal, yang mudah-mudahan bisa menjadi embrio awal arsitektur Indonesia yang lebih baik. Semoga&#8230;</p>
<p>tim workshop.ami</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=11&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/workshop_ami-20mei2009-pengumuman-proposal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Notulensi Jumat 15 Mei 2009</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/notulensi-jumat-15-mei-2009/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/notulensi-jumat-15-mei-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 01:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Update]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Bandung Selasar Rektorat Unpar, 20:30 Pertemuan Jumat malam di Selasar Rektorat Unpar Bandung merupakan lanjutan dari video conference penjelasan teknis workshopAMI hari Rabu, 29 April 2009. Pertemuan lanjutan ini disebabkan animo dari Bandung yang bersemangat dan penasaran sekali dengan workshopAMI. Sehingga untuk menjawab animo yang besar dan hebat itu, pada kesempatan kali ini, perwakilan AMI [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=9&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bandung</p>
<p style="text-align:justify;">Selasar Rektorat Unpar, 20:30</p>
<p style="text-align:justify;">Pertemuan Jumat malam di Selasar Rektorat Unpar Bandung merupakan lanjutan dari video conference penjelasan teknis workshopAMI hari Rabu, 29 April 2009. Pertemuan lanjutan ini disebabkan animo dari Bandung yang bersemangat dan penasaran sekali dengan workshopAMI. Sehingga untuk menjawab animo yang besar dan hebat itu, pada kesempatan kali ini, perwakilan AMI yang diwakili oleh Arvianti Armand, Danny Wicaksono dan Paskalis Khrisno Ayodyantoro memberikan penjelasan ulang mengenai workshopAMI kepada para perwakilan universitas di Bandung.</p>
<p style="text-align:justify;">Acara malam itu dimulai dengan penjelasan Danny mengenai acara workshop itu sendiri. Workshop yang diadakan dalam rangka ulang tahun AMI yang ke20, dilandasi rasa kepedulian AMI terhadap keadaan lingkungan kota kita. Dalam hal ini, lingkungan kota yang digaris bawahi adalah pemaknaan kota sebagai ruang tinggal manusia. <em>Sejauh mana pengertian ruang tinggal kita seiring jaman yang semakin berubah. Apakah ruang tinggal yang kita artikan masih tetap sama? Ataukah semua pengertian itu sebenarnya sudah berubah tanpa kita sadari?</em> Pemaknaan ruang tinggal itulah yang Danny lemparkan kepada forum malam itu menjadi pertanyaan yang kemudian akan dijawab dengan proposal hari Minggu, 17 Mei 2009 ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Arvianti Armand menambahi mengenai latar belakang dan beberapa contoh mengenai bentuk ruang tinggal, yang berbeda sekali dengan pengertian bentuk kita mengenai ruang tinggal. Mungkinkah pengertian ruang tinggal yang kita pahami saat ini adalah ruang tinggal milik bangsa Indonesia? Ataukah sebenarnya pengertian ruang tinggal itu hanya pemberian bangsa Belanda yang dulu datang? Beberapa gambar log house di Jepang, proyek-proyek Sou Fujimoto menjadi referensi tentang bentuk ruang tinggal jenis lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Paskalis kemudian memberikan gambar lainnya sebagai stimulan-stimulan agar berbagai ide menarik forum bermunculan untuk mendefinisikan kembali ruang tinggal dalam kota. Mencari sebuah permasalahan, menciptakan jawaban-jawaban dengan pemikiran desain yang out of box, menggemparkan, bahkan eksploratif adalah tujuan dari workshop kali ini. Partisipasi mahasiswa dan praktisi sangat diharapkan untuk memperkaya bahasa kita mengenai ruang tinggal dalam kota. Bahasa-bahasa tersebutlah yang kemudian akan kita bawa dan komunikasikan dengan masyarakat, dan juga pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Desain sebagai bahasa kita adalah alat komunikasi dalam peran serta keberadaan kita dimasyarakat. Sudah saatnya semua generasi mulai berhimpun, dan bekerja untuk mengejar segala jawaban yang dapat menjawab tantangan dan permasalahan masa kini. Dan jadikanlah momentum perayaan 20 tahun ini sebagai salah satu wadah kita bertemu dan mengabdi kepada masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Putri Kusumawardhani</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=9&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/notulensi-jumat-15-mei-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Risalah Penjelasan 6 Mei 2009</title>
		<link>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/risalah-penjelasan-6-mei-2009/</link>
		<comments>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/risalah-penjelasan-6-mei-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 01:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jongarsitek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Update]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopami.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Serambi Salihara 6 Mei 2009 Catatan Pertemuan Secara singkat, Avianti Armand menjelaskan kembali mengenai tema workshop, ‘Ruang Tinggal Dalam Kota’, dengan melempar kembali pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar masalah tersebut: Apa itu ruang tinggal dan mengapa kota diambil sebagai konteks? Apakah kita – nomad atau settler? Apa makna rumah di jaman di mana orang dipaksa keluar darinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=7&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;">Serambi Salihara</span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">6 Mei 2009</span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><strong><span style="font-size:9pt;">Catatan Pertemuan</span></strong></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Secara singkat, Avianti Armand menjelaskan kembali mengenai tema workshop, ‘Ruang Tinggal Dalam Kota’, dengan melempar kembali pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar masalah tersebut: Apa itu ruang tinggal dan mengapa kota diambil sebagai konteks? Apakah kita – nomad atau settler? Apa makna rumah di jaman di mana orang dipaksa keluar darinya dan terus bergerak? Bukankah rumah telah menjadi sekedar ‘ruang transit’? Dan apakah kota tidak tersusun dari ‘ruang transit – ruang transit’ dengan teritori-teritori yang terus menerus berubah? Dan bukankah kota juga sebuah ruang tinggal?</span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Marco Kusumawijaya mengusulkan sebuah konteks yang dapat digunakan oleh para peserta workshop dalam eksplorasi mereka, yaitu daerah pesisir utara. Pada daerah tersebut ada ancaman yang jelas sekali terhadap ruang tinggal – mulai dari ancaman social, ekonomi, juga alam. Untuk itu, ia dibantu oleh Elisa Sutanuwijaya dengan Peta Hijau yang dibuatnya bersama mahasiswa UPH. Para peserta yang tertarik bisa menggunakan peta tersebut sebagai titik berangkat. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Sarjono Sani menanggapi dengan mengusulkan agar workshop ini nantinya tidak sekedar sesuatu yang ‘mengawang-awang’, tapi lebih berupa penyelesaian terhadap masalah yang nyata dan dekat, seperti masalah-masalah di pesisir utara itu. Ia juga menganjurkan publikasi yang baik agar<span> </span>hasilnya bisa direalisasikan. Atau paling tidak, tersampaikan pada pihak yang ‘terkait’.</span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Marco menanggapi dengan mengingatkan kembali bahwa tujuan dari workshop ini adalah untuk memancing lahirnya pemikiran baru. Tidak harus suatu solusi atas sebuah masalah. Mengangkat masalah pun sudah cukup. Seperti seni, yang tidak harus selalu ‘berguna’. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Avianti menambahkan bahwa yang penting di dalam pemikiran baru itu ada: progress, energi, dan kejutan. Ia juga menambahkan beberapa hal yang bisa dijadikan konteks untuk eksplorasi dari tema workshop (selain dari pesisir utara yang menyita begitu banyak perhatian), seperti: KRL (Kereta Rel Listrik), Kuburan, WC Umum, Pasar, dll. Ilustrasi seperti sayembara Planless House yang diselenggarakan oleh Shinkenciku dan beberapa proyek controversial dari Sou Fujimoto juga dibagikan. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Menjawab pertanyaan dari Supie Yolodi, tidak tertutup kemungkinan bahwa akan ada proposal dalam workshop ini yang memang adalah usulan solusi dari sebuah masalah yang nyata, tapi juga ada proposal yang sekedar menawarkan pemikiran dan hasil yang masih ‘menjadi’ – tidak selesai. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Menjawab pertanyaan dari Eko, masalah social – seperti Dolly – dapat juga menjadi konteks, sejauh tidak keluar dari kerangka workshop, yaitu tetap ‘berarsitektur’, di mana hasil akhir harus berupa sebuah ‘desain’. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Semua proposal harus dikirim ke alamat email <a href="mailto:workshop.ami@gmail.com" target="_blank">workshop.ami@gmail.com</a> paling lambat tanggal 17 Mei 2009. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p>Avianti Armand</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopami.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopami.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopami.wordpress.com&amp;blog=7850726&amp;post=7&amp;subd=workshopami&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopami.wordpress.com/2009/05/22/risalah-penjelasan-6-mei-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0bd04acc5e6342a3f988e0aa7dc726f1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jongarsitek</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
