jongarsitek

Surat Terbuka Adi Purnomo untuk kegiatan workshop AMI di Salihara | 27 Mei 2009

In Review on May 28, 2009 at 2:50 pm

Rekan-rekan,

Ini mungkin akan tetap panjang meski saya coba sependek mungkin. Mohon maaf, saya tidak cukup mengikuti apa yang terjadi di awal, tapi semua rangkaian menjadi tiba-tiba, mungkin karena mengejar sebuah tanggal. Saya diminta menjadi reviewer dan untuk itu juga harus memilih sejumlah proposal/abstrak dari 40an yang masuk dengan cepat-cepat. Saya belum sepenuhnya memilih karena merasa belum cukup mengerti dengan apa yang dimaksud dari semua proposal yang masuk. Beberapa juga merupakan topik yang berulang, jadi kalau memilih satu seharusnya memilih semua. Untuk itu saya lebih menyerahkan pilihan pada reviewer lain.

Abstraksi workshop bisa diartikan dengan sangat bebas, meskipun saya mencoba menarik kesimpulan bahwa yang diharapkan adalah sebuah pendefinisian baru tentang konsep “tinggal” di masa sekarang di suatu “konteks kota”. (Saya tidak berani mengatakannya sebelum ini karena seperti mengacak-acak yang sudah berlangsung). Saya tertarik pada kata “konteks kota” dan membayangkan ada banyak kasus kota yang dibawakan disini, mulai dari kota-kota besar sampai kota-kota kecil. Pasti akan jadi wacana yang lebih menarik dan berguna mengingat adanya otonomi daerah dimana Pemerintah Dati II berkuasa sepenuhnya terhadap pengembangan ruang. Bagaimana kita menanggapi cara berhuni di kota-kota seperti Tenggarong (Kutai) misalnya yang tiba-tiba terdapat perkembangan seperti itu? Atau kota-kota kecil yang “diserang” developer Jakarta seperti Padangsidempuan dengan mal raksasa, atau tidak usah terlalu jauh seperti Tegal dengan perumahan dan hal-hal serupa yang “men-Jakarta” yang mungkin terjadi di banyak kota kecil lain di Indonesia. Bagaimana hunian bergerak mencari arah pada semua gejala perubahan semacam itu. Pertanyaan akan “akar” cara manusia berhuni rasanya bisa lebih terlihat dan lebih dekat untuk diwacanakan dari sini.

Akan tetapi mungkin karena keterbatasan waktu (atau juga jaringan?), ketika hampir semua proposal yang masuk memakai Jakarta sebagai konteks. Apa yang bisa kita lampaui dari pemikiran-pemikiran yang sudah ada ketika Jakarta dipakai sebagai konteks? Demikian yang kemudian menjadi pertanyaan saya lebih lanjut ketika membaca proposal-proposal yang masuk. Melihat sebaran pilihan topik dan tatacara penelusurannya, rasanya perlu sebuah arahan yang lebih jelas/konkret dari abstraksi workshop ini. Apakah ada yang perlu lebih digaris-bawahi di antara “definisi ruang tinggal baru” dan “permasalahan kota”? Kemudian apa yang diharapkan sebagai tujuan akhir- sesuatu perwujudan dalam rancangan yang lebih mengarah realistik atau gagasan di awan tapi masih sanggup menginspirasi kehidupan kita sekarang? Atau kedua/semuanya? Ada konsekuensi tertentu dengan penelitian yang harus dilakukan dengan batasan waktu dua bulan yang ada. Bagaimana mensiasati ini? Menurut saya harus ada yang memberi arah yang kuat terutama bagi proposal-proposal yang masih mencari dasar pemikiran yang kuat. Yang paling berhak tentu saja yang menuliskan abstraksi workshop yaitu Vivi.

Barangkali banyak yang belum terungkap karena belum terjadi suatu diskusi. Bukankah workshop semacam ini merupakan medium berdiskusi sebenarnya? Format penyelenggaraanya juga musti dilihat ulang rasanya. Entah karena formatnya atau karena materinya yang membuat beberapa peserta pulang mendahului terlebih dulu dan tinggal bersisa separo kalau saya tidak salah lihat. Untuk itu saya coba memberi komentar satu persatu secara terbuka dari peserta yang mempresentasikan proposalnya pada Rabu malam 27 Mei 2009 di Salihara dalam kapasitas saya sebagai reviewer. Moga-moga nanti terjadi diskusi yang lebih jauh. Saya berusaha tidak membuat kutipan atau referensi contoh untuk mencoba jernih terhadap subyek yang dipilih peserta.

RUANG MIMPI

Topik hunian “terpinggir” seperti ini akan selalu aktual selama kondisi negeri/kota-kota kita masih seperti sekarang ini. Ada (lebih) banyak isu yang berada di luar wilayah arsitektur ketika berhadapan dengan permasalahan seperti ini. Bagaimana arsitektur menjadi sebuah alat perpanjangan tangan atas hal-hal diluar wilayah tadi merupakan tantangan proposal ini. Bagaimana bisa melampaui jebakan klise merupakan tantangan berikutnya. Mungkin juga pertanyaan tadi refleksi terhadap diri saya sendiri. Mendalami dan melakukan pencarian data/permasalahan dibalik yang terlihat bisa menjadikan proposal ini lebih tajam dalam jawaban.

ARSITEKTUR BINATANG

Saya ingin melihat apakah proposal ini bisa melepaskan diri dari batas metafor saja. Bagaimana jika konteks kota dipandang sebagai lansekap tempat untuk tinggal. Slum yang menjadi “residu kota” apakah tidak sama halnya dengan rumah berang-berang di tengah hutan beton? Bagaimana kalau kita belajar dari gejala ini sambil juga belajar hukum sebab akibat yang ada di alam ini? Mungkin itu pelajaran utama ketika melihat perilaku mahluk-mahluk membangun di alam ini.

NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT

Jakarta tenggelam dan “Noah’s Ark”? Saya seperti menangkap presentasi ini sebagai sebuah ujung yang terkunci: apa lagi yang hendak dieksplore ketika sudah diputuskan jawabannya adalah rumah perahu? Dengan fakta banjir Jakarta yang sudah begitu lama, apakah perlu untuk melihat terlebih dahulu mengapa dari dulu orang tidak juga membuat rumah perahu atau rumah panggung. Barangkali bisa lebih memperkuat alasan adanya rumah perahu kalau memang itu. Lepas dari materinya judul proposal ini menggelitik saya untuk menyandingkan orang Jakarta yang asing (diasingkan?) dengan pantainya…

DIDEDIKASIKAN UNTUK KOMUTER

Subyek jalan tol yang justru dilihat sebagai kesempatan lain untuk mendapatkan suatu kualitas tinggal, paling tidak itulah yang terbaca oleh saya. Ada unsur satirik yang memancing untuk melihat lebih jauh apa yang bakal terjadi ketika “ketidak-mungkinan” ini ditelusuri. Data dan pengolahannya menjadi bagian yang krusial untuk proposal  ini. Jika melihat potensi luasan jalan tol akan bisa memancing berbagai gagasan lanjutan.

RUANG.WAKTU.TINGGAL

Pertanyaaan terhadap lamanya waktu tinggal pada sebuah tempat atau benda untuk mendefinisikan kembali makna ruang tinggal membuka perhatian saya. Namun juga membawa kekawatiran atas waktu workshop sendiri. Dua bulan untuk mencari semua varian, mungkin hanya akan tercapai pada beberapa varian dasar (atau menjadi tipologi?) saja. Perlu dicari upaya yang cukup sistematik untuk menyelesaikan jawabannya.

LINEAR CITY

Proposal awal memperlihatkan maksud yang lebih jelas ketika jalur-jalur lintasan dipakai sebagai tempat menaruh semua fungsi kota dan membiarkan sisanya menjadi area hijau. Ketika dipresentasikan, justru terlihat kebingungan atau keraguan terhadap masalah-masalah yang lalu bermunculan dengan “pemadatan” semacam itu. Penelitian dan pemecahan masalah yang ditemukan pada konflik-konflik jalur vertikal dan horisontal ini yang mungkin justru harus diperlihatkan guna menguji apakah ada peluang terjadinya hal linier semacam ini.

METABOLISME KOTA JAKARTA

Sepertinya ada banyak sekali isu yang hendak di bicarakan dalam proposal ini. Saya tidak melihat hubungan antara hal-hal yang dibicarakan seperti misalnya perang dunia arsitektur dengan sel unit tunggal yang bisa membelah dan berbiak memperbaiki kota. Rasanya perlu merumuskan kembali dengan lebih jernih dan sederhana apa sebetulnya yang hendak dimaksudkan.

Ketika judulnya adalah metabolisme kota, saya sempat mengira akan mendapati hal-hal semacam analogi gejala tubuh, penyakit dan penyembuhannya dengan permasalahan kota. Apakah kemacetan identik dengan penyumbatan pembuluh darah misalnya. Atau fungsi hati dan kelenjarnya mengurai racun dengan mekanisme pengelolaan sampah kota? Apakah logika kesehatan/kedokteran mempunyai kemungkinan untuk dipakai sebagai “jembatan keledai” menormalkan kembali metabolisme tubuh kota? Bantar Gebang perlu cuci darah atau transplantasi hati? Yang seperti apa? Dsb, dsb.

RUMAH INI TIDAK UNTUK DIJUAL

Mengkonfrontir isu komersial dan komodifikasi sepertinya adalah sebuah “ketidak-mungkinan” ketika berbicara pada konteks kota. Kota hidup darinya. Lalu ketika hal itu dihapuskan dulu untuk mencari “akar” bagaimana orang tinggal (dengan seperlunya) bagaimana konflik yang terjadi membuka kemungkinan pengertian ruang tinggal yang lainnya lagi? Itu yang saya tangkap dari proposal ini. Saya ingin tahu ketika dibedah dan friksi itu terjadi, apa kemungkinan-kemungkinannya?

RUANG JEDA DALAM KOTA BAGI KOMUTER

Ketika kita berada dalam telur dadar itu, bukannya semua hal bisa berada (atau serasa) dalam jangkauan kita mestinya? Tapi lalu ternyata komuter dalam jumlah besar masih menjadi permasalahan. Lalu saya berpikir sendiri, bagaimana jika ternyata isu ini hanya sekedar permasalahan sarana transportasi saja? Ketika kehidupan takluk pada permasalahan kota seperti Jakarta, kita jadi merasakan perlunya ruang jeda. Ketika titik terjauh misalnya Pasir Ris ke Marina Square (Singapura) hanya ditempuh dalam 15-20 menit atau Tokyo-Kyoto dalam waktu yang sama apakah ruang jeda ini relevan dengan isu komuter, karena transportasi itu sendiri ruang jedanya. Ruang jeda bagi komuter lalu menjadi khas Jakarta. Menjadi masuk akal tapi “miris”, bukan satirik lagi. Data dan pengolahannya diperlukan untuk menguji fakta tentang komuter itu sendiri. Apakah dengan ada jeda menjadi lebih ekonomis atau mudah atau apapun yang memberi kualitas lebih baik bagi kehidupan komuter itu sendiri.

BLACKOUT ARCHITECTURE

Bagaimana metode merancang suatu obyek atau ruang tanpa ada “preoccupy” sensor visual ketika setiap hari kita masih menggunakan sensor ini untuk alat menjalani kehidupan, ketika presentasi yang dilakukan masih berbasis visual karena audiencenya berbahasa visual juga? Itu pertanyaan yang muncul ketika saya membaca proposal ini dengan harafiah. Saya membacanya ulang dengan terpejam. Tapi ingatan akan visual tulisan itupun masih membayang. Ingatan orang yang pernah melihat berbeda dengan ingatan orang yang sama sekali tidak pernah melihat. Saya lalu merasa lebih nyaman untuk membaca proposal ini sebagai “menutup mata untuk membuka mata hati”…  mungkin juga ini bukan yang dimaksud oleh “author”nya karena metodenya “tak terjelaskan”.

SEBUAH ANGAN UNTUK CILIWUNG (SEBUAH KATA-KATA)

Maaf, saya benar-benar tidak bisa menangkap cara atau runtutan berpikir dalam proposal ini. Yang ada pertama kali adalah pemikiran menumpukkan suatu grid ke dalam sebuah wilayah kota sebagai titik-titik untuk melihat dan sekaligus meletakkan sesuatu untuk memecahkan masalah. Itupun masih mengundang pertanyaan ketika dalam jarak antar titik tertentu bisa terdapat permasalahan lain yang lepas dari pengamatan. Lalu ketika tiba-tiba dipilih Ciliwung dan menjadikannya titik-titik linier bukan grid lagi. Seberapa banyak hal homogen atau heterogen dalam “stretch” Ciliwung tadi? Lalu tiba-tiba ada rumah pohon atas alasan isu lingkungan dan wisata? Barangkali perlu kembali ke awal terlebih dahulu dengan mengerti apa yang ingin dicari dari menumpangkan grid tadi.

MOBILE HOUSE

Proposal yang masuk justru lebih jelas maksudnya daripada saat dipresentasikan. Saya membacanya sebagai tawaran bagi developer untuk memakai lahan lebih sedikit dan mempunyai fleksibilitas bagi orang berpindah tinggal jika harus berpindah tempat kerja. Perlu responden yang cukup untuk menunjukkan bahwa waktu tempuh antara tempat kerja, sekolah dan sebagainya di setiap anggota keluarga memang benar seperti itu. Bagaimana jika sebetulnya jumlah seperti itu tidak banyak? Mungkin ada (atau banyak juga?) yang lebih memprioritaskan kedekatan tempat sekolah anak-anak dengan tempat tinggal sementara orang tua mengalah menempuh waktu lebih lama. Bagaimana jika core itu ternyata sekolah anak-anak? Dsb,dsb. Ada rentetan yang harus dilalui dengan mencari tahu fakta-fakta itu terlebih dahulu. 2 bulan waktu yang pendek sekali bahkan jika dikerjakan dengan waktu penuh.

RUANG BAYANGAN KOTA

Saya membacanya sebagai ketertarikan terhadap 2 isu yaitu sosial dan lingkungan hidup (isu-isu sustainable dsb), namun belum menemukan cara untuk mempertemukannya. Topik bayangan lebih saya tangkap sebagai gambaran sosial dimana kekuatan ekonomi, kekuasaan politik dsb ternyata “mengatasi” atau menutupi peri kehidupan lain di bawahnya, tidak cukup “mengayomi”. Ada keresahan tentang ketidak-adilan mungkin. Bagaimana isu ini pada tataran ruang dan arsitektur? Hal-hal apa yang bisa ditemukan dari yang mempunyai kekuatan/kekuasaan itu yang masih memberi peluang ruang kehidupan yang layak bagi yang tidak mempunyainya? Barangkali itu yang hendak dimaksudkan proposal ini? Isu kedua mempunyai sifat sekunder atau tidak dipakai sama sekali jika memang tidak berhubungan. Atau sebaliknya.

Secara umum, sementara ini saya melihat ada dua kecenderungan. Pertama adalah proposal yang memperlihatkan bagaimana,, kota mengubah cara tinggal dan hidup. Kehidupan seakan mengalah pada permasalahan kota, sehingga perlu bermutasi atau alat bantu. Jeda, transit, nomad, waktu dsb menjadi isu dalam kecenderungan ini. Yang kedua adalah ruang tinggal yang berusaha tidak takluk atau bahkan justru berusaha “menaklukkan” kota dan yang melepas semua konteksnya. Merebut kembali ruang-ruang publik atau ruang-ruang terpinggir untuk suatu kualitas yang lebih bermakna sebagai ruang tinggal merupakan salah satu hal dalam kecenderungan kedua ini. Ada yang hendak melepas semua konteks untuk menemukan definisi yang lebih murni, atau ada yang mengkonfrontir kualitas kehidupan pribadi/keluarga dengan gejala-gejala kota yang mereduksinya juga merupakan kecenderungan yang kedua. Kita lihat bersama saja apa yang akan terjadi dalam proses dan hasil akhirnya nanti.

Demikian sementara yang bisa tersampaikan dalam semua keterbatasan. Selamat bekerja untuk semua! Salam.

Adi Purnomo

  1. Setuju sekali dengan pendapat bapak Adi purnomo. Memang arah dari ide yang kami usung karena melihat kesempurnaan `sistem` dalam organisme ciptaan Tuhan (bentuk organ yang sempurna dari tampilan fungsi dan kerja serta hubungannya dengan sel penyusunya, organ lain, bahkan organisme lain). Methabolisme sebagai proses mengurai dan menyusun kembali dalam tubuh dan `sistem` terpenting bagi setiap organisme. Semua permasalah yang kita tampilkan diawal adalah proses mengurai dan tujuannya menyusun `sistem` methabolisme yang sehat. Sistem yang sering dibicarakan org namun tak terbentuk seperti apa sesungguhnya sistem itu menjadi pertanyaan besar dari tim kami yang pada presentasi lalu justru terlewat kami sampaikan dari pengalaman Pecha Kucha kemaren yang mungkin saya rasakan adalah belum terbiasa dengan teknik presentasi cepat. Jujur saya (vidya spaye) tau `pecha kucha` dari workshop ini. Mungkin pada pertemuan berikutnya,kami berusaha lebih baik dalam penyampaian materi secara singkat, ringkas sehingga tidak membingungkan. Terimakasih.

  2. kalau mau jujur saya merasakan workshop ini mengalami kekurangan fokus dalam temanya sendiri. di luar kekurangan itu, saya sendiri melihat kelebihannya karena mampu menyerap isu terkini hingga isu-isu klasik arsitektur. maka dari itu kedalaman dan keluasan kajian dan sumber merupakan syarat yang agak wajib untuk menghasilkan proposal yang sesuai (dan kedalaman yang baik). tapi untuk mencapai sebuah standar tertentu bagi seluruh proposal rasanya sulit karena titik awal dan akhir masing-masing proposal akan sangat bervariasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.