Secara keseluruhan, proposal dari para peserta masih mempuyai kelemahan struktural dan konseptual yang kami harap dapat diperbaiki dalam proses workshop. Secara struktural, belum ada yang mengusulkan metodologi dan latar belakang riset yang jelas yang telah maupun akan dipakai sebagai alat untuk mendukung hipotesa atau kecurigaan yang dikemukakan. Secara konseptual, banyak yang bahkan tidak sanggup menunjukkan masalahnya. Pemikiran mengenai ‘ruang tinggal’ dan ‘kota’ masih sangat klise, juga tidak focus. Keduanya belum dipikirkan dengan sungguh-sungguh dan dimengerti sebagai dua entitas yang beririsan. Tapi dari yang ada, para reviewer akhirnya mampu memilih 17 proposal yang masing-masing akan kami beri komentar berikut ini:
BLACK OUT ARCHITECTURE
Tentang ‘melihat’ dan indera lain.
“Di atas tahta mereka, raja-raja menemukan analogi diri pada matahari : dari atas melihat ke bawah – dan dengan kemampuan visual itu mereka membuat peta, mereka kuasai wilayah, mereka atur barisan untuk menentukan nasib manusia.” (Tuhan dan hal-hal yang tak selesai, Goenawan Mohamad.)
Jangan-jangan, apa yang tersebut di atas adalah apa yang dilakukan oleh perencana kota, arsitek, developer, dan orang-orang yang punya wewenang mengatur dan merencanakan kota.
Dalam melihat, selamanya terirat ‘jarak’. Karena itu sangat mungkin terjadi ketidakpekaan dan ketakterkaitan pada yang dilihat yang sangat memungkinkan terjadinya salah interpretasi. Berbeda dengan indera lain yang membutuhkan kedekatan untuk dapat berfungsi dengan baik. Indera lain mempunyai ‘keterbatasan jangkauan’, karenanya justru jadi sangat personal. Intim. Jangan-jangan, dengan menggunakan indera lain sebagai acuan, luas ruang yang kita butuhkan tidak sebesar yang selama ini kita pikir kita butuhkan. Jangan-jangan ada kualitas ruang tertentu yang akan muncul jika kita memperhatikan indera lain dalam merancang. Dalam jumlah banyak, tentunya itu akan mempengaruhi kota dan tantanannya.
DIDEDIKASIKAN UNTUK KOMUTER
Ada dua hal yang menarik di sini:
1. Perlawanan kaum lemah yang menggelitik. Lucu, tapi juga tajam.
2. Menaklukan yang diam dengan gerak = menjinakkan ‘gerak’ menjadi satu tempat yang bisa ditinggali.
Arsitektur, termasuk juga jalan tol, adalah alat yang paling mudah dipakai untuk menegaskan kekuasaan, seperti monumen, menara, istana, gedung kapitol, dan sebagainya. Jalan tol adalah penanda kekuasaan/kekuatan modal.
Usulan untuk mengklaim/merebut jalan tol menjadi ruang tinggal publik adalah pemberontakan yang tidak anarkis karena yang diusulkan bukanlah ‘menduduki ‘(diam) – tapi ‘bergerak’ di dalamnya sekaligus menghuni. Ini memberi arti baru untuk ‘tinggal’ yang selama ini identik dengan ‘diam’.
Kalau di dalam proposal disebutkan bahwa proposal ini secara radikal menggugat jalan tol, maka sebenarnya tidak, karena dia justru menyetujui – bahkan memanfaatkan ruang ini secara maksimal. Dengan begitu dia justru memperoleh keuntungan-keuntungan seperti yang disebutnya: melewati titik-titik strategis kota, pemandangan indah Jakarta, hemat waktu, dsb.
KETIKA ARSITEKTUR BERFASHION
Saya memilih proposal ini justru karena tidak setuju bila arsitektur dianggap sama dengan fashion. Itu yang terjadi sekarang, dan itu yang , menurut saya, mendangkalkan arsitektur.
Saya pernah menulis begini tentang fashion:
“Ia adalah hal-hal yang tidak berdasar. Hal-hal yang kelihatannya punya makna lebih dalam, tapi dalam kenyataannya adalah tanpa dasar atau justifikasi yang substantif. Hal-hal yang berumur pendek. Temporer.”
Tapi jangan-jangan hanya itu yang kita butuhkan di masa di mana semua berubah dengan cepat? Siapa bilang bahwa arsitektur harus ‘selamanya’? Jangan-jangan memang bisa – dan bahkan mungkin lebih efektif – bila kota dan arsitektur dirancang seperti sebuah ‘stage set’? hanya ‘seolah-olah’? seasonal architecture?
Ada dimensi waktu yang berperan penting dalam fashion. Karena itu, sebelum meloncat ke hal lain seperti aksesoris dan untaian ruang publik, mungkin lebih baik dicari dulu masalah-masalah arsitektural yang terkait dengan ‘waktu’, dengan mengunakan fashion sebagai analogi.
MOBILE HOUSE
Konsep mobile house sendiri sebenarnya bukan hal yang baru. Yang baru adalah ‘core’ itu. Tentu harus ada riset yang mendahului pemisahan ruang tinggal, yang akhirnya hanya jadi sekedar container yang dapat berpindah-pindah dengan mudah, dari hal-hal esensial yang mendukung kehidupannya, yang nantinya akan dimuat di dalam core.
RUANG MIMPI
Ruang mimpi di sini diartikan sebagai ruang singgah atau transisi – sementara – sebelum ada ruang tinggal yang lebih ‘tetap’. Ada konteks dan program ruang yang sudah jelas, tapi tetap harus ditelaah lagi agar tidak sekedar terjebak pada sentimentil yang berlebihan.
Tapak: samping rel kereta api – karenanya tidak legal, juga berbahaya.
Kebutuhan ruang: ruang untuk meluruskan punggung, taman bermain anak-anak, kebun sayur untuk hidup, ruang bersama multifungsi.
Masalahnya lalu, bagaimana menyiasati yang ‘sementara’ ini – agar penghuni yang semula hanya singgah tidak lalu tinggal selamanya – dan menyusun argumen untuk statusnya yang illegal dan kondisinya yang berbahaya.
FENOMENA KOMUTER DAN WARUNG ROKOK
Ada dua hal yang menarik dari proposal ini:
1. Luasan minimal untuk sebuah ruang tinggal.
2. Batas antara ruang pribadi dan ruang publik di dalam kota.
Buat para komuter, batas itu adalah kaca dan pintu mobil. Buat warung rokok, batas itu adalah dinding-dinding multipleks dan gerai dagangnya. Dalam kedua kasus tersebut, batas tidak solid karena interior dan eksterior masih terkoneksi secara visual dan audial.
Karena itu, ‘gua’ di sini harus diartikan sebagai metafor, bukan bentuk. Dan ‘batas’ itu menarik untuk dieksplorasi – apalagi apabila dikaitkan dengan: elasitsitas, fleksibilitas, transparansi, dan kualitas lain yang bisa dieksperimentasikan ke ruang tinggal.
TROPICAL CAPSULE BUNGALOW
Idenya tidak baru, tapi tetap menarik, karena konteksnya lalu bisa di mana saja di dalam kota. Ini bisa jadi solusi pemukiman yang selalu terbentur pada ketersediaan lahan. Selain itu, bahan dan teknologi yang dipakai menarik. Ini bisa jadi material alternatif yang murah, mudah didapat, dan sustainable. Bangunan bamboo bertingakat banyak juga akan bisa jadi riset teknologi membangun yang menantang.
Tapi sebelum itu, ada pernyataan tersirat yang menarik dengan memilih bamboo sebagai material utama, yaitu: arsitektur tidak perlu abadi. Rasanya, dasar pemikiran ini perlu ditelaah lebih jauh ke belakang, sebelum keluar dengan proposal tropical-capsule-bungalow.
RUMAH INI TIDAK DIJUAL
Apakah mengembalikan rumah menjadi ruang tinggal yang sangat pribadi, bukan sebuah komoditi, akan dapat memperbaiki kota – sebagai sebuah ruang tinggal? Di sini irisan antara ‘ruang tinggal’ dan ‘kota’ mulai tersirat.
Proposal ini menarik karena eksplorasi bisa ditarik ke akstrim lain. Bagaimana jika rumah justru dilepas dari segala sesuatu yang pribadi? Dengan sengaja dilepas dari hal-hal yang bisa memberinya identitas, bahkan kepemilikan? Bagaimana jika ruang tinggal hanyalah ruang bersama yang dipakai secara bergantian? Seperti satu mekanisme pemukiman komunis?
Tidak dijual = tidak bisa dijual, karena merupakan milik bersama?
Karena Keterbatasan waktu, review ini akan segera di update.
saya mengusulkan supaya para reviewer tidak perlu tergesa-gesa memberikan komentar lengkap dalam masa pasca presentasi 1, karena saya yakin bahwa rekan-rekan lain ada yang sudah mempersiapkan materi cukup dalam. ini hanya dikarenakan format 20 slide yang membuat materi presentasi menjadi singkat padat. saya melihat potensi besar dari beberapa proposal yang masuk, yang tidak mungkin dibeberkan kemungkinan-kemungkinannya pada presentasi 1.
Bu Vivi, workshopnya apakah sudah jalan? Apa tujuan workshop ini? apakah ingin mencoba mencari cara baru berarsitektur? atau ingin melihat issue aktual di sekitar kita( baca kota)?
salam
Pak Hery, seperti yang tercantum dalam TOR nya, workshop ini bertujuan mencari bentuk baru atau cara mendesain baru atau definisi baru (sudah pasti tidak tunggal) dari ‘Ruang Tinggal Dalam Kota’. Workshop sudah jalan dari satu setengah bulan yang lalu. Silakan kalau mau datang dan ikut mengamati jalannya. Silakan juga kasih komentar, pasti akan sangat membangun.
Salam,
AA